Senin, 14 Januari 2008

Aksi Pedagang Pribumi di Nabire



Kaum Perempuan selalu menjadi korban dari semua pihak , baik korban kekerasan fisik, kekerasan seksual maupun korban dari sebuah kebijakan Pemerintah maupun swasta.
Akibat sebuah kebijakan Pemerintah melalui Dinas trantib untuk menertibkan 13 obyek, termasuk ditertibkan pedagang sayur pasar sore disepanjang trotoar depan taman gizi kelurahan oyehe , membuat pedagang yang rata kaum perempuan ini bingung hendak dibawa kemana jualannya sebab biaya transportasi dari rumah ke pasar sentral kalibobo cukup tinggi ketimbang hasil jualan yang diperolehnya .
Guna menjawab kebingungan sekitar ratusan perempuan mendatangi kantor DPR (25 Agustus 2005) untuk meminta kejelasan dimana mereka berjualan , sebab diantara mereka ada yang tidak mendapat tempat jualan di pasar sentral kalibobo .
“Pasar sore di Oyehe ditutup, sekarang kami mau jualan dimana, pergi jualan di pasar Kalibobo tapi saya keluarkan ongkos taksi Rp.10.000 hanya untuk mendapatkan uang Rp.1000 lalu saya rugi diatas rugi malahan hasil jualan juga habis bayar mas- mas ojek” kata mama Gerda Yigwa disela – sela aksi demo mama – mama penjual sayur belum lama ini di Kantor DPRD.
Hasil kebun saya buang terus sebab pasar ditutup, kami mau pergi jual di Kalibobo tapi tidak ada pembeli sebab penjual sayur pakai motor mendatangi dari rumah kerumah, maka jualan disana tidak ada pembeli . jangankan pembeli angin pun tidak bisa lewat, urai jigwa.
Kami datang ke sini agar DPR untuk melihat kehidupan yang diterlantarkan Pemerintah dan meminta waktu 2 jam saja (antara 16.00 – 18.00 WP) untuk berjualan di Oyehe sekedar mencari uang taksi buat anak – anak kami. Jualan di pasar Kalibobo tapi tidak ada pembeli , Bupati pun kami kasih tahu ( beritahu ) jualan di pasar sore Oyehe tapi tidak pernah lihat. Kalau kami jualan di pasar Kalibobo harus bayar meja bahkan ada yang sewa tempat jualan sama orang pendatang, kata ibu marta di depan ibu lainnya.
Usai mengeluarkan unek - unek dari kaum ini , Ketua DPRD Nabire Drs. Daniel Butu menemui ibu – ibu. Seorang perempuan separuh baya mengeluarkan tulisan diatas sepenggal Karton Air Mineral Aqua . “ Kami minta pasar (jualan :red ) 2 jam (16.00 – 18.00 Wp) “ .
“ Daerah Nabire dalam kondisi penertiban salah satunya penertiban pasar. Akan tetapi untuk sementara menunggu pembagian pasar Kalibobo saya kasih waktu 2 jam untuk berjualan di pasar sore Oyehe. Setelah semua beres baru kita tutup untuk tidak jualan lagi, kata Drs.Daniel Butu Ketua DPRD Nabire di depan mama – mama yang berjubel di halaman Kantor DPR.
Mendengar jawaban dan penjelasan dari Ketua DPRD mama – mama meninggalkan Kantor DPRD. Satu hal yang aneh dari aksi demo pedagang sayur ( ibu – ibu ) ini bahwa mereka diterima di garasi mobil anggota dewan, sementara pedagang pasar Kalibobo yang notabenenya laki – laki di terima di ruang pertemuan DPRD Nabire.
” Sesuai surat Perintah Bupati Drs. A.P.Youw tertanggal 11 Juli 2005 Satpol PP ( Satuan Polisi Pamong Praja ) diserahi tugas menertibkan 13 obyek. Penertiban terhadap 13 objek penertiban ini akan di lakukan hingga bulan Desember 2005. Ketiga belas objek yang akan ditertibkan beberapa diantaranya penertiban pasar, penertiban rumah Dinas, Kendaraan Dinas, Satpol PP BBM, penertiban PNS, Satpol PP lainnya “ ujar kepala satuan Polisi Pamong Praja Kab. Nabire Alex z.Kareni S.Sos, ditemui suara perempuan disela – sela aksi demo pedagang sayur di halaman Kantor DPR Nabire.
Agenda penertiban pasar di Nabire dari Satpol sudah dijalankan dan sedang dalam penertiban tempat jualan yang ada dibelakang pertokoan Oyehe. Sekarang sudah tidak ada lagi penjual yang melakukan aktivitas didaerah itu. Pasar sore di trotoar Oyehe juga sama. Para pedagang sebelumnya mangkal diareal itu kini telah dipindahkan untuk beraktivitas dipasar sentral Kalibobo.
Penertiban pasar masih dilakukan . Dalam waktu dekat akan dilakukan penanganan pasar sore KPR Siriwini. Kami akan turun bersama instansi terkait untuk memberikan informasi kepada para pedagang, dilanjutkan pemindahan pasar ke pasar Kalibobo. Untuk agenda ini kami akan bersama dengan pihak Distrik sebagai pihak yang memiliki Wilayah di Back Up aparat keamanan juga melibatkan instansi terkait, urai kareni.
Untuk mama – mama yang jualan ditrotoar Oyehe, pasar sore KPR Siriwini semua jualan di pasar Sentral Kalibobo, 2 los untuk mereka yang dari kedua pasar itu, pasar Kalibobo harus ditertibkan, mereka yang jualan di badan jalan harus jualan dalam pasar sehingga aktivitas pasar sentral berjalan baik, kata Alex. emanuel goo

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda