Jumat, 22 Agustus 2008

Posisi Perempuan Dalam Pilkada Nabire

Emanuel Goo

Peran politik kaum perempuan masih sangat kurang. Kendala utama disebabkan oleh laki-laki dan perempuan dalam memandang dan memperlakukan perempuan. Budaya patriarkhi di kalangan masyarakat mengakar dan mendominasi dalam kehidupan. Bahkan dalam lingkungan terkecil seperti keluarga, nuansa dominasi laki-laki sangat kuat. Terlebih di pedesaan. Label dan cap yang diberikan pada sosok perempuan sangat kental sebagai orang lemah, tidak bermanfaat dan terbelenggu ketergantungan telah di doktrin secara turun temurun. Perempuan dipersepsikan sebagai orang kelas dua yang seharusnya di rumah dan dininabobokkan dengan konsumerisme, dalam cengkeraman kapitalisme. Perempuan lemah tidak sepatutnya bergelut dengan dunia politik yang penuh dengan kekerasan dan kekasaran permainan kekuasaan. Perempuan dinilai tidak mampu memimpin dan membuat kebijakan karena patron membentuk perempuan mengutamakan perasaan sehingga jauh dari sikap rasionalitas. Persepsi negative tersebut dilekatkan pada perempuan sendiri telah terstruktur sedemikian rupa dibenak kaum perempuan dan kaum laki-laki.

Pembongkaran budaya patriarkhal men-jugment perempuan membuat mitos sangat luar biasa kuat. Pemberdayaan perempuan terbentur dinding sangat kokoh dari interpretasi perempuan tinjauan politik, agama, social. Perempuan sebenarnya mempunyai otonomi mutlak tentang dirinya. Sebagai manusia mempunyai kedudukan setara membawa kepemimpinan di muka bumi. Perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara dalam mengatur kesejahteraan manusia. Telah terjadi kesenjangan antara gagasan keadilan yang mendudukkan perempuan dengan laki-laki setara, namun realitas terjadi perempuan masih terkungkung oleh tidak adanya ruang kesempatan memadai mengaktualisasikan perannya.

Keterlibatan Megawati berjenis kelamin perempuan sebagai Presiden RI, dan tidak mampu mewarnai percaturan politik justru menjadi controversial di masyarakat. Sosok kepemimpinannya seakan belum mewakili keseluruhan perempuan mendapatkan penghidupan yang layak dari sektor publik

Pertautan antara ide dan realitas mesti menjadi pijakan dalam memperjuangkan ide persamaan (egaliter) dalam segala bidang. Akses yang sama dalam bidang politik tentu menjadi cita-cita yang masih di atas langit biru dan tak berpijak pada bumi. Dalam realitas empirik, ketimpangan perempuan dan laki-laki sangat terasa di masyarakat. Dalam struktur keluarga sebagai unit terkecil, keputusan penting masih banyak dimainkan oleh ayah sebagai simbol pemimpin rumah tangga. Budaya mengakar dalam masyarakat tidak dapat serta merta dilawan secara radikal dengan menjungkirbalikkan budaya dominan. Aneh bin ajaib, manusia yang terlahir dari rahim perempuan, namun peran perempuan dikebiri sedemikian dasyat untuk kepentingan patriakhi. Realitas terlalu kuat dan berakar lama mendominasi. Akibatnya upaya melapangkan kesetaraan dan persamaan hak terpental dan semakin menyingkirkan kaum perempuan yang dilemahkan oleh sistem.

Peran politik perempuan dalam dunia politik seakan beraneka ragam. Wilayah cakupan politik yang mampu dimainkan masih sebatas wacana dalam diskusi dan pelatihan. Dalam pergumulan politik, sebenarnya perempuan bisa menembus apa saja dengan kualitas yang dimilikinya. Ia mampu menjadi pemimpin dari tingkat kepala desa sampai presiden dan wilayah publik yang signifikan. Namun harapan itu sangat jauh dari kenyataan dilapangan. Perempuan banyak yang ditolak oleh komunitasnya sendiri ketika ingin berperan lebih. Banyak kalangan perempuan yang tidak siap dan mendukung ketika sesame perempuan maju bersaing dalam sebuah ranah politik. Ketiadaan dukungan dari sebagian perempuan tentu didasari oleh stigma dimasyarakat yang menilai perempuan cukup jadi makmum saja. Sehingga kesempatan tersebut kandas dan dimainkan oleh laki-laki kembali. Pertarungan di wilayah politik memang penuh intrik antara siapa mempengaruhi siapa. Persoalan pengaruh inilah yang harus digalang dari solidaritas kaum perempuan untuk memberi kepercayaan kepada para perempuan yang berkualitas dalam bidangnya. Pembelaan dari sesama kaum perempuan perlu menjadi cetak biru jika ingin manabrak budaya yang mendominasi.

Kesiapan perempuan untuk maju secara berani mengambil inisiatif dalam segala kebijakan menyangkut hidupnya dan kebaikan masyarakatnya penting diartikulasikan. Penguatan sipil sebagai bangunan kokoh suatu tatanan negara selayaknya menjadi konsen para aktivis perempuan untuk mendampingi kalangan perempuan yang tertinggal. Karena kita tidak mungkin maju sendirian, sementara para perempuan yang lain masih tertinggal pengetahuannya dan terbelenggu oleh mitosnya sendiri yang membelenggu kiprahnya dibidang politik. Perjuangan Kartini masih tetap relevan dengan situasi masa kini. Karena pada intinya, perjuangan Kartini adalah perjuangan pembebasan atas ketertindasan melalui pendidikan dan pengajaran. Perjuangan Kartini, yang sudah berumur satu abad lebih. Tetapi, masih kita saksikan banyak perempuan terpuruk karena terbatasnya perolehan mereka di bidang pendidikan. Terbatasnya modal pendidikan itu membuat terbatasnya lapangan kerja bagi mereka dan ini menimbulkan rentannya wanita terhadap kekerasan dan penindasan,

Kemauan politik perempuan sangat starategis menjangkau pembalikan kekuasaan yang didominasi oleh kaum laki-laki. Jumlah kalangan perempuan yang mencapai 50 % dalam pemilihan umum akan melandasi gerakan kaum perempuan dan menjadi diktum pembebasan selanjutnya. Bias mitos yang merasuk dalam tubuh perempuan yang irrasional belief akan ikut hanyat dengan realitas yang setara dan berkiprah sejajar dalam dunia politik. Cara pandang yang rasional dan mengutamakan nilai keadilan akan mampu mendorong keterlibatan perempuan lebih luas didunia publik. Tidak saja perempuan yang akan menikmati kemajuan ini, namun juga para kaum laki-laki menjadi lebih bijak dalam membagi tugas dalam bermitra kerja dengan perempuan dalam memutuskan kebijakan masyarakat luas.

Pembongkaran wacana keislaman yang klasik perlu terus dikritisi untuk menuai ajaran yang sejatinya berpihak pada pembebasan dari penindasan . Pelarangan perempuan untuk keluar rumah, atau menjadi pemimpin suatu daerah, Wilayah , Negara menjadi wacana yang harus terus dikritisi sesuai dengan kontekstualisasi. Emansipasi Perempuan harus disesuaikan dengan adat istiadat Indonesia, kebudayaan serta kodrat antara pria dan wanita. Wanita dan pria punya tempat dan tugas sendiri dalam kehidupan ini, bukan disalahartikan bahwa kedudukan yang satu di atas yang lain. Keduanya harus saling melengkapi dan saling mengisi kekurangan masing-masing supaya makin sempurna. Dengan kata lain keduanya saling membutuhkan untuk saling melengkapi.

Walaupun demikian, bukan berarti pembebasan yang tanpa mengikuti budaya. Kebebasan tersebut dimaksud, bukanlah kebebasan pergaulan yang seperti kita lihat saat ini yaitu seperti mabuk-mabukan, menghisap ganja, main judi, menjadi WTS, atau mengedarkan ekstasi, tetapi kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang masih dibatasi oleh norma agama dan adat ketimuran yang santun dan mengutamakan kebaikan bagi komunitas masyarakatnya. Pembebasan tetap diteriakkan berlanggam dengan berlandaskan moral etik yang penuh kebaikan dan nilai-nilai kasih dan sayang sesama manusia. Agama sesungguhnya dihadirkan untuk membawa perdamaian bagi manusia. Maka dalam membagi peran politik antara laki-laki dan perempuan akan menjadi mitra sejajar yang saling mengokohkan bangunan bangsa yang telah rapuh ini.

Adalah Wartawan Suara Perempuan Papua ,Kontributor Papua Pos Nabire & Coordinator Club Study dan Kreasi Talenta Papua di Nabire

Label:

Kamis, 10 Juli 2008

Kerikil-Kerikil Menuju Pilkada Nabire

Sejak awal tahun 2008 ini , masyarakat Nabire dihadapkan pada situasi suhu
Oleh Emanuel Goubo Goo politik kian memanas sebab tahun persiapan sekaligus penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati Nabire periode 2009-2013 . Tak ketingalan KPUD Nabire pun disibukan sejumlah kegiatan persiapan pilkada sekaligus penyelenggaraannya , mulai pemasangan baliho, sosialisasi Perda 22 tahun 2007 , penyusunan jadwal proses pilkada ,pendaftaran dan verivikasi calon perseorangan hingga kini beberapa partai sedang mendeklarasikan kandidat yang diusung .
Namun ditengah perjuangan , Persiapan , penyuksesan penyelanggaraan pilkada Nabire 2008 mendatang, ternyata masih ada kerikil –kerikil kecil yang di lupakan oleh KPUD, Pemerintah Daerah ( legislative , eksekutif ) belum finalnya perda 22 tahun 2007 yang diajukan oleh eksekutif dan ditetapkan oleh legislative . Dimana hingga kini masih kontraversial baik di kalangan masayarakat terutama para kandidat ( Timotius Murib, Cs) .Lalu yang menjadi sebuah ironi bahwa pihak yang mensosialisasikan produk perda sebenarnya pihak eksekutif seb agai penyusun perda namun yang terjadi KPUD lah turut mensosialisasikan pada posisi KPUD adalah pelaksana dari produk perda 22 tahun 2007 tersebut. Dan patut diselami bahwa perda 22 tahun 2007 belum sepenuhnya public sebagai pemilih menerima itu dengan berbagai pertimbangan termasuk dalih yang rasional .

Lalu pada sisi dan kerikil lain yang patut menjadi perhatian antara KPUD dan Pemerintah bahwa kompisisi personil anggota KPUD yang ada sekaran g dan akan menyelenggarakan pilkada hanyalah 4 orang sementara Pengganti Antar Waktu atas nama Almarhum Alpius Petege belum ada pergantian . Disini menampilkan titik kelemahan KPUD danm akan terjadi kepincangan saat pengambilan keputusan . Lubang atau kerikil ini mestinya jauh sebelum jelang pilkada sudah ditutup namun hyingga kini kerikil kekurangan personil masih terjganjal dibutuh KPUD . Lalu tugas siapa ? pihak mana untuk mengisi kekosongan salah anggota KPUD itu . Kemudian siapa yang dapat mengisi? Lalu siapa nomor berikut dari almarhum Alpius Petege?
Kapan akan digantikan ? Sementara tahapan pilkada berjalan terus bersamaan dengan bergulirnya waktu ? . Ketika masuk pada tingkat pengambilan keputusan KPUD MERAIH suara dua-dua , bagaimana mengambil keptusan yang tepat . Disini ketiadaan pengganti Antar Waktu Atas nama Almarhum Alpius Petege menjadi kerikil dan masalah tersendiri di dalam tubuh KPUD menuju suksesnya pilkada Nabire . Kalau ada kepincangan dan kerikil-kerikil dalam KPUD bagaimana dapat menyelenggarakan pilkada secara lansung , umum, bebas, rahasia ? Disini semua pihak pemeritah ( Eksekutif, legislative yang bagian perwakilan kepartaian dan KPUD dapat menyelesaikan itu .

Lalu salah satu tugas besar yang sempat disosialisasikan bahkan nyaris dilupakan adalah sosialisasi UU Pencalonan Perseorangan . Walaupun sempat didiskusikan tetapi rasanya tra cukup sebab nampak seperti tayangan iklan pada layar TV melalui RRI Nabire . Rakyat belum paham akan UU tersebut , bahkan saya ada calon juga belum memahami betul isi dari UU tersebut , Lalu salah siapa ? . Lalu masalah dan akibat yang dimunculkan dari UU tersebut adalah cukup besar . Di mana nyaris setiap kandidat dibebankan 7,000-an pendukung , bagi kandidat perseorangan yang merasa tidak dapat mencapai pendukung sebanyak itu kemungkinan besar akan melakukan manipulasi data .Lihat saja kemarin siang sejumlah kepala distrik dan warga dari distrik Siriwo , kemarin mengadu kepada anggota KPUD atas manipulasi data dari salah satu kandidat perseorangan . bagaimana solusi kpud m, dan pemerintah . KPUD harus bertanggung jawab menyelesaikan persoalan adanya indikasi manipulasi data pendukung dari masyarakat . Lalu ketika belasan orang lebih kandidat yang maju lewat calon perseorangan bagaimana dengan jumlah pemilih tetap yang terdaftar di KPUD . Kalau saja jumlah pendukung dari perseorangan melebihi dari data jumlah pemilih tetap yang ada di KPUD Nabire . Di sini KPUD menambah beban kerja , entah hendak selesaikan masalah calon dari perseorangan atau dari jalur partai . Sebab walaupun maju lewat payung partai tetapi belum tentu murni , karena belakangan ini sebagian besar partai yang ada di Nabire terjadi dualisme partai . Dalam kedualismean partai ini masih menyimpan masalah lain yang tidak kalah peliknya , yang tidak boleh dipandang secara kasat mata .
Inilah sekelumit kerikil-kerikil dalam Pilkada yang patut diselami, dicari jalan keluar, dikeluarkan kerikil dalam sepatu agar perjalanan proses pilkada berjalan sesuai dambaan seluruh masyarakat Nabire .



Penulis adalah Kontributor Papua Pos & Wartawan Tabloid Suara Perempuan Papua Tinggal di pinggiran Kota Nabire

Label:

Jumat, 04 April 2008

Siapa Makan siapa?

Kondisi Papua dulu dan Sekarang yang di Siarkan Oleh Radio Jerman
"Father forgive me," ujar seorang Papua dengan penampilan seorang Rapper kepada saya, sambil merapatkan kedua telapaknya di dahi seperti berdoa: "Father'forgive me!"Sabtu malam di Jayapura, Ibukota West -Papua. West-Papua adalah setengah pulau New Guinea milik Indonesia.Setelah matahari terbenam taman Gizi dipenuhi sesak manusia. Orang Papua sibuk dengan botol minuman keras, segenggam tangan penuh pinang seraya sesekali memandang toko-toko sekitarnya. Ini adalah sebuah Malam Minggu di kota Jayapura versi Papua .Pemilik dari toko-toko ini bukanlah orang Papua, melainkan pendatang dari Indonesia bagian barat, yang menemukan keberuntungannya di timur Indonesia ini. Para pemilik toko mengikuti dengan skepsis perkembangan daya beli masyarakat yang mencerminkan daya beli insidensial dibanding daya beli yang berkesinambungan."Father forgive me, can you help me?" Anak muda ini tetap berdiri di depan saya.Setelah 150 tahun misi kristen saya dapat mengerti , bahwa satu-satunya orang kulit putih di taman tersebut dianggap sebagai seorang Pendeta.Apa yang diampuni seorang Pendeta dan apa yang seharusnya ia tolong, dijelaskan seorang pemuda :" Sekarang Sabtu malam dan saya tidak memiliki uang untuk minum.".Beberapa hari sebelumnya seorang penumpang mengatakan:"Jika seperti kami menerima uang, kami akan tidur di hotel. Tetapi jika orang ini menerima uang di tangan, dia berbaring di pipa pembuangan. Mereka mabuk,sampai tak sadarkan diri..Waktu siang saya melihat , bagaimana seorang Papua yang sedang mabuk memukuli istrinya dengan sebuah balok kayu. Istrinya tidak mau menyerahkan kepada suaminya uang hasil penjualan pinang.Secara resmi pengadaan minuman keras dilarang. Tetapi para pegawai Indonesia disuap, maka minuman tersebut dapat diperoleh mudah di setiap sudut. Tiga Euro atau sekitar 40 ribu Rupiah untuk sebotol hangat, bir atau 10 ribu milo . Penghasilan seorang butuh harian.Saya membiarkan pengemis minuman itu berdiri kekeringan,lalu pergi kembali ke hotel sambil melewati para polisi. Mereka datang untuk mengumpulkan para pemabuk. Dalam perjalanan saya dirampok. Dua pemabok membutuhkan uang.Sayangnya alkohol hanyalah salah satu dari berbagai masalah di Papua . Alkohol adalah sebuah ancaman. Tapi transportasi adalah sebuah kesempurnaan dari mimpi yang buruk.
Langit di atas Papua tanah yang dihuni orang berkulit hitam adalah milik para pilot kulit putih melakukan penerbangan pesawat berjenis cesna . Tidak ada negara satu pun di dunia memiliki landasan pesawat dan maskapai penerbangan per kepala dari jumlah penduduk sebanyak di pulau terbesar kedua di dunia ini.Tak satu pun tempat di dunia yang memiliki harga tiket paling mahal, dan mungkin terburuk kondisinya.Pilot-pilot dari negara maju datang karena uang atau karena kasih nasrani.Kebanyakan jalur penerbangan diorganisasikan oleh maskapai misi kristen. Orang protestan, baptis, adven. Seorang warga negara belanda, bernama Henny van de Kerkhoff adalah pimpinan pilot milik misi Katholik atau AMA."Kamu tidak bisa pergi kemana pun tanpa pilot. Surat tiba per udara. Obat-obatan,pegawai pemerintahan. Makanan, Material bangunan,sebutkan saja apa yang kamu inginkan, semuanya harus diterbangkan.Tetapi kepadatan populasi sangat rendah, sehingga maskapai komersil tidak dapat melakukannya: kita berbicara tentang penghasilan dari 350 meter landasan dan penyediaan seorang pilot untuk daerah tersebut, yang di dalamnya bermukim tidak lebih dari 2000 orang. Tidak ada pemasukan berarti di sana, juga untuk kami. Tetapi kami hanya ingin menolong mereka" kata sang pilot .
Sebuah pos luar di daerah utara rawa-rawa:Setiap hari menanti kabar dan beberapa jam kemudian terdapat kekecewaan baru,ketika banyak penerbangan dibatalkan. Sekali datang sebuah pesawat, terbang rendah di atas landasan dan kembali pergi, karena untuk pilot cuaca buruk. Sebuah badai cukup untuk pendaratan darurat, embun dapat menyebabkan pesawat tidak bisa terbang, sampai landasan kering. Tetapi hujan turun terus menerus sepanjang tahun, hampir setiap hari.Karena keterlambatan seorang usahawan perempuan kehilangan tugas-tugasnya,walaupun ia tak terhitung sudah mencaci maki melalui telefon satelit. Dalam beberapa hari tiba natal. Hingga natal ia tak akan dapat mengunjungi keluarganya.Tak ada kemungkinan. Perempuan tersebut mengalami stress berat. Dia tidak menyadari bahwa New Guinea terikat dengan kegagalan. Semua orang gagal.Setiap orang dengan harganya. caranya masing-masing. Semua gagal, dan selalu ada Pilot Henny .
"Kami membiayai penerbangan misi kami sebagian melalui charter para turis,walaupun kami tidak begitu bahagia dengan ini: tidak banyak orang asing yang datang dengan kondisi seperti ini, karena mereka mendapat masalah kesehatan setelah beberapa saat. Pada akhirnya kami harus membawa mereka keluar dan untuk itu kami harus mengubah jadwal penerbangan kami." 90 Euro atau sekitar 1 juta Rupiah biaya sebuah jarak pendek dengan sebuah maskapai komersial. Berbahaya, tetapi menguntungkan dibandingkan dengan 1200 Euro (sekitar 13 juta Rupiah) untuk menyewa perahu boot atau 2500 Euro (30 juta Rupiah),harga charter misi untuk jarak yang sama. Tidak ada jalan raya di New Guinea sampai beberapa tahun belakangan ini baru adea jalan trans yang mulai menembusi wilayah tertentu di Papua .Sudah hampir 4 bulan saya di New Guinea. Selama itu ada 3 pilot hilang. Enam minggu saya hanya menunggu perahu boot, kapal laut dan pesawat, walaupun saya juga banyak berjalan kaki. Karena itu saya hanya dapat mencapai sedikit daerah: Waktu, Energi, dan Biaya yang dibutuhkan untuk perjalanan di New Guinea begitu luar biasa, yang tidak pernah memungkinkan seseorang memperoleh sebuah gambaran yang menyeluruh. Alkohol adalah sebuah ancaman. Tapi transportasi adalah sebuah kesempurnaan dari mimpi yang buruk.
Misa hari minggu di pegunungan tengah Papua . Pada tahun 1968 di sini, di bawah gletser dari ruang astro-pasifik, dua orang misionaris kulit putih disembelih dan dimakan. Satu dekade kemudian dianggap kanibalisme , minimal di pegunungan, secara resmi dimusnahkan. Walau demikian apa yang terjadi di sisi lembah terpencil, tak seorang pun tahu: sebuah tim ekspedisi internasional menemukan di tahun 2006 sebuah wilayah, yang kemungkinan besar belum pernah diinjak oleh seorang manusia.
Untuk memudahkan fase perpindahan kanibalisme menjadi kekristenan, banyak lagu tradisional suku-suku digantikan dengan teks-teks baru dan diambil ke dalam liturgi.Sekarang hampir tidak pernah lagi lagu-lagu itu dinyanyikan. " Ia akan membuat kenangan lama kembali terjaga", ujar pendeta Rainer . " Hal tersebut dapat memperlemah keyakinan." Tetapi ingatan juga akan lenyap dalam tempo yang cepat. Pada tahun 90-an di lembah pedalaman Wamena atraksi utamanya ketelanjangan, dengan hiasan sayap burung dari para pejuang suku, dan menjadi devisa terbesar orang Papua. Kemudian pecah kerusuhan besar. Bencana alam datang bertubi-tubi di musim kemarau.Hujan debu, gempa bumi, banjir dan kelaparan. Waktu pendapatan menurun, para pemimpin asing bersekongkol dengan para pegawai menjadi semacam mafia, yang trik kecurangannya menghantui hampir semua pengunjung. Papua mengincar dolar para turis, yang dia jarang dapatkan. Wamena kini hanya menawarkan sekumpulan kios kayu. Para turis harus mengusahakan show-nya sendiri. Seorang agen perjalanan mengatakan: Dengan tour yang paling murah orang pedalaman menerima kaos dengan lebel perusahaan kami. Dengan yang agak mahal mereka memakai pakaian mereka sendiri. Lalu dengan sewa tour yang paling mahal mereka berjalan telanjang, hanya dengan Koteka. Inilah citra yang memiliki nilai jual paling tinggi." Pendeta Reiner Scheunemann menghabiskan sebagian besar hidupnya di Papua . Menurut pengakuannya ia lebih fasih berbahasa Indonesia daripada berbahasa Jerman. Ia juga yang telah mengarang lagu hymne sebuah klub sepak bola Papua dan denganya ia menjadi seorang bintang di Papua, saat klub sepak bola tersebut dengan hymne tersebut mengalahkan klub sepak bola se Indonesia .Denganya pula stadion utama terkenal dengan sebutan pendeta Rainer,sebagaimana ia dipanggil. Ia sendiri mengajar di sekolah tinggi theologi di Jayapura: "Makna dan tujuan dari misi saat ini di Papua adalah berperan sebagai tanda harapan dari situasi saat ini, situasi yang sebenarnya tanpa harapan, secara ekonomi juga budaya dan dalam perpekstif ekologi, Papua dekat dengan situasi kehancuran, karena sangat kuat dieksploitasi dari berbagai sisi. Dan juga tanpa harapan dari sisi pendidikan dan juga tentu saja menjadi korban kekuasaan Indonesia dan dari luar juga terutama oleh perusahaan multinasional besar dari barat.Oleh karena itu tugas misi terutama adalah menjadii pertanda dari harapan,memperjelas orang Papua, bahwa masih ada orang-orang yang ingin menolong mereka."

Doa Bapa Kami..jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di atas surga....Kerajaan surga datang dalam sosok Carl Wilhelm Ottow dari Luckenwalde dekat Berlin. Sang Sultan dari Ternate, sebuah pulau kecil penghasil rempah-rempah jauh di tenggara mendeklarasikan, bahwa wilayah di timur adalah wilayah upetinya dan memberikan ijin kepada para misionaris jerman untuk menginjilinya.
Pada tanggal 5 Februari 1855 mendaratlah Ottow di pulau Mansinam, yang berjarak dekat dengan pulau besar. Setelah 7 tahun misi, dan meninggal karena sebuahdemam, ia berhasil membangun jembatan, yang sebelumnya 300 tahun lamanya para penakluk Portugis, Perancis, Inggris dan Belanda gagal dalam lumpur dan hujan panah. Di sekitar makam Ottow berdiri kota pertama di New Guinea: Manokwari.Kuburan Ottow sekarang terletak di sebuah replika rumah panjang semen ,kemungkinan satu-satunya peninggalan arsitektur tradisional yang ada." Atas nama Tuhan, kami menginjak tanah ini" terukir di atas nisannya.
Berita keberhasilan Ottow tersebar cepat. Salah satu pengunjung pertama adalah Alfred Russel Wallace.Jejak seorang ilmuwan alam terkenal selain Darwin pada abad 19 diikuti oleh ahlI burung Kris Tindige:"Di dalam bukunya yang berjudul 'The Malay Archipelago' dapat kamu baca, bahwa ia pernah menginjak Mansinam, pulau yang penting dalam sejarah keagamaan di Papua. Wallace melukiskan pasir yang putih, terumbu karang indah tanpa cela. Dan sekarang lihatlah, apa yang telah diperbuat penebang hutan, penangkap ikan, dan pengusaha perkebunan hingga kini, orang-orang yang berasal dari luar tersebut.Di sini ada seekor burung, yang kami namakan "burung pintar", karena ia mendekorasi sarangnya dengan bunga-bunga. Sekarang ia menghias sarangnya dengan kantong plasik dan bateri bekas.
Industri perikanan telah meledakan banyak terumbu karang. Surga pantai Ottow Sekarang dipenuhi oleh terumbu yang mati dan sampah. Di atasnya terdapat sebuah salib putih. Salib ini memandang tepat ke pelabuhan Manokwari. Di sana terdapat kapal putih, yang setiap minggu datang membawa para pendatang baru: mereka telah memenuhi setengah dari populasi penduduk. Thaha Al Hamid mewakili minoritas kecil dari suku asli muslim. Sebagaimana sebagian besar orang Papua ia menuntut juga kemerdekaan dari Indonesia. Kata Al Hamid,"Tidak pernah terjadi interaksi yang sederajat antara pendatang dan orang asli. Para pendatang bersikap seolah-olah seperti mereka datang dari sebuah kebudayaan super, seperti seolah-olah kami harus belajar dari mereka.Tetapi kami berasal dari latar belakang yang berbeda, yang memiliki pandangan berbeda terhadap alam, lingkungan hidup, atau untuk menjawab pertanyaan, bagaimana bentuk masa depan kami seharusnya. Tidak akan mungkin, dari kami dibentuk menjadi petani-petani seperti mereka, atau buruh pabrik. Migrasi ini hanya dibuat, untuk menjadikan kami orang yang kalah."
Setelah kematian Ottow, pendatang pertama, diikuti oleh gelombang kedatangan banyak misionaris.Lalu setelah mereka diikuti dengan kedatangan gelombang kedua yaitu para penjajah. Sebuah sumber dari Inggris mengatakan Siapa yang tidak mati dalam tiga minggu pertama karena demam, akan dimakan oleh para kanibal pada minggu ke-4nya"
Orang Belanda menduduki wilayah barat, orang Inggris bagian selatan dan orang Jerman di bagian tenggara. Dengan berakhirnya perang dunia pertama kekaisaran 6 Prusia kehilangan koloninya. Dari episode ini hanya tertinggal nama Kepulauan Bismarck di Papua Nuigini, bagian timur pulau.
Tersisa juga pengaruh gereja.
Pendeta Rainer Scheunemann mengatakan "apapun yang dilakukan oleh negara, tetap saja gereja yang memiliki kata finalnya.Hal ini disebabkan karena kepercayaan masyarakat semakin lama semakin buruk terhadap pemerintah. Jadi saat ini kepercayaan masyarakat hanyalah kepada gereja. Orang Papua berharap, bahwa kami sebagai pekerja dari barat dapat menolong mereka. Dalam hal Pendidikan, Kesehatan dan HAM, tetapi juga jika dalam hal memberikan mereka rasa percaya diri, karena mereka merasa sangat rendah diri, merasa buruk, merasa lemah, dan hal ini juga disebabkan bahwa mereka orang kulit hitam, dan tentu saja disebabkan oleh rasisme di Indonesia yang juga sangat kuat."
Setelah perang dunia kedua berakhir, mengikuti keinginan Amerika maka batas wilayah jajahan tetap: sebuah garis membagi pulau, seperti dibelah oleh belati.Tetapi orang Belanda harus pergi. Wilayah timur New Guinea menjadi milik Australia, sebelah barat milik Indonesia. Orang Papua sama sekali tidak terlebih dahulu ditanyakan, tetapi PBB bersikeras pada bentuk refrendum. Lalu pemerintah Indonesia membunuh, memeras dan merekayasa beberapa kepala suku dan mengumumkan sebuah keberhasilan dari proses "Act of free choice", yang disebut oleh PBB sebagai kebebasan dalam memutuskan pilihan. Benni Giai, pendeta, antroplog dan anak kepala suku , yang juga merupakan seorang budayawan terkemuka di Papua, mengingat dengan baik tentang kerja keras pemerintah Indonesia. "Ada seorang guru bernama Robi Jodi, yang juga seorang sekretaris gereja di wilayah Papua . Setelah penangkapannya, militer memasukan kaos kaki hitam ke dalam mulutnya. Kemudia mulutnya dijahit dengan sebuah perkakas. Ia meninggal 18 jam kemudian. Pihak militer lalu mengundang penduduk, untuk melihatnya, dijadikan sebagai pelajaran untuk mereka. Genoicide di mata saya bukan saja menyangkut fisik, sebagaimana kasus ini menunjukan: hanya dengan menyaksikan, orang-orang mati.Diperkirakan kasar pihak keamanan Indonesia telah membunuh 100.000 orang di West -Papua, dengan populasi suku asli seluruhnya yang mencapai 1,5 juta jiwa.
Setelah "Pembebasan", sebagaimana integrasi pada indonesia secara resmi dinamakan, lalu setelahnya harus dirayakan: Benni Giai "Presiden menghadiahkan anak babi kepada masyarakat. Tetapi hewan-hewan tersebut sudah terinfeksi dengan bakteri Anthrax atau sejenisnya. Banyak orang mati. Ayah kandung saya juga. Ia dapat menaruh kakinya ke api tanpa merasakan sakit. Ia kemudian meninggal pada bulan Agustus tahun 1992.
Latar Suku bangsa Korowai .Di Antara langit dan bumi hidup suku Korowai: di ketinggian 5 hingga 50 meter mereka mendirikan rumah-rumah pohon dengan beberapa kamar. Pada suku Korowai, ayah, ibu dan anak-anak memiliki tungku apinya sendiri-sendiri. Rumah-rumah yang rendah mereka huni dalam masa damai. Mereka tinggal di atas batang-batang pohon yang ditebang. Rumah-rumah tinggi mereka dihuni dalam situasi bahaya: dibangun di pedalaman hutan lebat, dengan tangga-tangga di antaranya, menyerupai tangga ayam yang dapat ditarik. Sebuah pencapaian arsitektonis luar biasa dari manusia-manusia jaman batu. Suku ini pertama kali ditemukan pada akhir tahun 70-an. Orang Korowai pertama saya kenal di sebuah kota perdagangan. Anton, kira-kira berumur 20 tahun. Anton salah seorang dari masyarakat korowai "Saya tidak mau tidak pindah lagi.Tidak ada rumah yang dibakar, tidak ada wanita yang diculik.Tidak akan memakan orang lagi. Tidak juga jika daging babi terbatas sekali pun."
Seminggu sebelumnya saya bertemu seorang Itali, yang setiap tahun melakukan erjalanan eksklusif. Kali ini ke Papua. Harganya 4000 Euro (sekitar 50 juta rupiah),ia temukan di Jayapura untuk perjalanan sendiri dengan charter pesawat ke tempat tinggal para kanibal. Apakah rasa kwatir mengalir pada dirinya waktu itu, ya, dan luar biasa. Begitulah ujarnya sungguh-sungguh, tetapi tidak sepenuhnya meyakinkan:Tak lagi menculik wanita? Suku Korowai menyukai poligami, tetapi harga sang mempelai sangatlah tinggi. Merampok wanita dan kemudian membakar rumahnya,sebelumnya membunuh pemilliknya, tampak untuk mereka sering menjadi solusi.Itulah sebabnya terdapat rumah-rumah tinggi.Anton pergi ke sekolah. Sudah sejak setahun. Ia telah belajar, menulis cuki. Hal tersebut untuk Anton sebagai bukti, investasi pada ilmu tulis berguna. Untuk uang sekolah ia harus bekerja pada orang Indonesia. Jika cukup bensin. maka malam dinyalakannya generator. Dan Anton boleh menonton film "Oh yes". Film tersebut dinamakan, karena pemain wanitanya tidak mengatakan yang lainnya sepanjang film. Anton menyewakan saya sebuah rumah pohon setelah satu minggu negoisasi alot dengan harga yang dapat diterima.
Tiga hari berjalan maju di sungai. Pertama Siret, kemudian Dairam. Lewat wilayah Suku Citak Mitak. "Dulu kita tidak bisa melalui jalan ini. Mereka memakan kami. Demikian juga kami terhadap mereka."Kemudian melalui wilayah suku Kapayap. "Beberapa tahun silam mereka menculik 3 wanita kami. Seorang meninggal, dan seorang lainnya berhasil kabur. Dan satunya lagi masih dimiliki mereka.Akhirnya kami tiba di desa Anton.Dibangun oleh pemerintah, agar suku ini dapat lebih diatur. Kios-kios dengan atap seng berbaris rapi di sekitar sungai. Konskwensi tanpa ampun. Gagal seperti semuanya apa saja yang dibuat oleh pemerintah: desa itu hampir kosong dari penghuninya, banyak dari pondok sudah rusak. Selain itu suku Korowai tidak pernah tinggal di dekat sungai: terlalu banyak wilayah sasaran tembak untuk panah-panah musuh. Sebuah keluarga, dua, tiga rumah tinggi di atas sebuah rerumputan dekat mata air. Beberap jam jauh perjalanan ke keluarga berikutnya. Begitulah hidup suku Korowai. Lalu kami memutuskan untuk berhenti.Jika di pegunungan turun hujan, air naik 1 meter di dataran yang rendah, dalam waktu beberapa jam kemudian. Sepanjang jalan menjadi begitu berlumpur, sehingga orang tidak dapat berjalan di atasnya. Suku Korowai menaruh pilah-pilah batang kayu di atasnya. Di atas batang-batang yang licin mereka pandai menyeimbangkan tubuh. Oleh karenanya juga mereka sangat pandai membangun rumah-rumah tinggi. Untuk orang lain, berjalan kaki melalui wilayah Korowai sangatlah buruk. Jarak pandang di tengah-tengah lebatnya hutan jarang lebih dari 10 meter.Tanahnya lembek dan licin, juga menghisap. Banyak tanaman rambat tajam, yang hampir- hampir tidak terkoyak. dan menempel pada sepatu, ransel-ransel, dan kulit. Selalu basah, dan panas. Siapa yang berhenti, akan melihat lintah-lintah datang mendekat.Di tempat-tempat tertentu tidak dapat didiami oleh manusia, karena dalam kumpulan nyamuk seperti awan, manusia tidak dapat lagi bernafas.Berbincang dengan masyarakat Korowai Apakah ada daerah-daerah, dimana kalian tidak berani datangi?Tergantung. Jika kami telanjang dan membuat suara keras,kami dapat ke mana saja. Tetapi ada wilayah, jika orang di sana menemukan jejak kaki, mereka akan mengikutinya atau bertemu dalam perjalanan kembali. Ada juga kediaman, di mana orang-orangnya belum terbiasa berpakaian. Dengan pakaian orang tidak dapat pergike sana. Mereka akan lari atau memanah. Salah satunya. Di sana seorang perempuan mati, karena ia bertemu dengan orang asing. Ia begitu kagetnya, dan ketika lari jantungnya berhenti berdetak.
Secara tradisional laki-laki Korowai hanya memakai sebuah lembaran kayu. Mereka meletakan penisnya ke dalam buah zakar dan mengikat lembaran tersebut padakepala penis. Terlihat seperti hernia dengan sebuah benih di atasnya."Agar para wanita tidak melihat barang kami. Tetapi akan sakit jika ia sedang mengeras."Laki-laki yang lebih tua masih memakai daun tersebut. Lubang hidungnya juga di-piercing dan menembus kedua dinding pemisahnya. Melalui lubang tersebut dahulu mereka memasukan caling babi dan bulu kasuari. Sekarang mereka masih melakukannya untuk para turis."Di daerah tersebut hanya ada satu orang Indonesia. Jon memiliki radio. Para pemandu wisata menghubunginya lewat radio sebelum datang. Lalu ia memberikan kami uang. Kami membuat perayaan adat untuk para turis. Kami berjalan, merias diri. Menyanyi dan menari. Tapi tidak, seperti kami melakukannya pada upacara adat. Tak boleh seorang turis ke sana. Tidak juga demi uang.Seminggu sebelumnya saya bertemu seorang Itali, yang setiap tahun melakukan perjalanan eksklusif. Kali ini ke Papua. 4000 Euro (sekitar 50 juta Rupiah), di Jayapura ia temukan, untuk perjalanan sendiri dengan charter pesawat ke tempat tinggal para kanibal. Rasa kwatir mengalir waktu itu, ya, dan luar biasa." Jon ekstra membayar, agar turis tersebut sedikit dikejutkan. Melihat pemakan manusia. Pemandu menawarkan tiap tahun banyak uang agar kami orang asing dibawa ke pemukiman, di mana seorang pun belum injak dan orang-orangnya masih memakan manusia. Tetapi itu sangat berbahaya. Seorang anak muda dari suku kami pernah memanah seorang kulit putih. Hanya untuk menakut-nakuti. Sang turis Langsung jatuh dan harus segera diterbangkan. Seorang lainnya pernah terjatuh dari rumah pohon. Ia langsung mati. Dan orang-orang semacam ini harus kita bawa ke sebuah tempat, di mana kami sendiri tidak yakin? Sebagai gantinya kami membangun pemukiman hanya untuk para turis. Dengan anak tangga yang lebih stabil dan sebuah rumah tinggi khusus untuk difoto. Saya pernah juga di sebuah pemukiman seperti itu. Di bawah rumah pohon berserakan bungkus-bungkus kosong kopi jerman, dan buah fig australia.
Matteus menunjukan saya sebuah mata panah runcing yang indah. "Anak panah ini diwariskan oleh ayah saya. Hanya untuk upacara pengorbanan manusia. Mungkin suatu hari, saya akan jual. Siapa tahu....Anton tidak memiliki lagi anak panah semacam itu. Juga lubang hidung tambahan. Sekarang pada anak-anak muda suku Korowai hanya terdapat lubang-lubang luka bakar rokok. Di kulit, di lengan atasnya, dada dan pundak. Jika mereka tidak mampu lepas dari orang Indonesia, setidaknya mereka ingin tunjukan, bahwa mereka tidak takut dengan rasa sakit.
Pada tahun 1936 orang-orang Belanda menemukan di pedalaman New Guinea tambang tembaga di atas ketinggian 4000 meter lebih. Dengan teknologi saat itu tidak memungkinkan dilakukan pengeboran. 40 tahun kemudian Amerika Serikat ikut dalam aksi kekerasan menumbangkan presiden Sukarno. Salah satu perjanjian pertamanya adalah hak pengelolaan pada perusahaan Freepoert milik Amerika Serikat. Tambang Grasberg di West Papua adalah tambang emas di dunia dan tambang tembaga ketiga terbesar di dunia. Pengerukan perharinya 220.000 ton tembaga, dengan keuntungan pertahun hampir 1 miliar Dollar Amerika. Dengan jumlah yang hampir sama, Freeport adalah pembayar terbesar pajak di Indonesia. Untuk memasuki kawasan 10.000 Hektar wilayah pertambangan tembaga hanya mungkin dengan undangan dari pimpinan perusahaan.Dari pesawat kelihatan sebuah gunung, yang kelihatan seperti gigi yang dilubangi. Dari dalamnya seperti mengalir lumpur ke mata sungai. Bijih tembaganya dipompa ke dalam saluran pipa menuju dermaga dan dikirim dengan kapal laut ke peleburan internasional. Ampasnya ditinggal di Papua. Sejarah dari sebuah perusahaan minyak Texas McMoRan digegerkan oleh skandal. Dalam sebuah penelitian pada tahun 1988 ia dijuluki sebagai perusak alam terbesar amerika.
Di Papua mereka dijuluki sebagai penarik pelatuk dari pengusiran dan pembunuhan atas suku-suku asli pemilik tambang. Gunung emas untuk mereka ada tempat para dewa-dewa. Dari sebuah penelitian yang sedang berlangsung di Amerika Serikat, Freeport telah membayar 20 juta Dolar untuk "usaha pengamanan" privat pada komando militer di Papua. Untuk menangkis tuduhan tersebut, pimpinan perusahaan di New Orleans mengangkat penguasa setempat, juga disetujui oleh pemerintah, sebagai komisaris: Tom Beanal. Kata Thom Beanal "Freeport memberikan kepada kami tidak lain selain penindasan lebih lanjut. Dari hari ke hari. Hal tersebut adalah yang saya alami, yang terjadi. Freeport hidup dari kami, tetapi kami tidak dapat apa-apa. Tak seorang pun mendengar kami. Saya seorang komisaris, tapi apa itu artinya, jika saya sekaligus dijajah?Itu tidak berarti apa-apa. Kami adalah manusia-manusia yang termaginalisasikan dan akan terus begitu.Saya mengharapkan sebuah Papua yang merdeka,dengan identitas sendiri, dengan hak sendiri, yang tidak dengan suara pluit Indonesia atau Amerika menari.Yang kami bangun dengan impian kami sendiri." Selain perusahaan multinasional seperti Freeport atau BP yang menguasai Papua juga mesin gergaji. Merek jerman Stihl lebih terkenal daripada Mercedes, Hitler atau ckenbauer. Suara mengiris gergaji tersebut telah menggantikan suara burung Cendrawasih. Yang pertama ditebang habis adalah hutan-hutan di sepanjang pantai, ribuan kilometer. Kemudian berikutnya adalah hutan-hutan di sepanjang sungai yang mampu dilalui kapal laut. Di mana sebuah kapal bisa berlayar, tersisa sekarang hanya pohon-pohon yang tidak bisa dijual. Berpuluh-puluh tahun terdapat pulaupulau yang terdiri dari batang-batang pohon, yang kapal bisa muat ke arah barat melalui laut. Jenis variasi ala Papua "Perdagangan laut".
Desa Dekai dimerkarkan menjadi kota kabupaten pada tahun 2005. Sebuah kontraktor bangunan datang dan memperoleh kontrak. Ia men-charter helikopter rusia, terbang bersamanya truk jepang , mesin gergaji jerman, dan pekerja indonesia, dan membangun sebuah jaringan jalan -di tengah pedalaman. Tanpa penghubung ke dunia luar, tanpa memandang lapangan terbang yang tidak rata di sana. Sungai terdekat hanya dapat diraih dalam waktu satu hari perjalanan dengan perahu. Di sepanjang jalan berdiri kios-kios kayu, jumlahnya ratusan. Kantor-kantor dan rumah tinggal para pegawai negeri, memenuhi kota kabupaten ini, yang mengolah hutan-hutan di sekelilingnya.Kemudian datang pegawai-pegawai yang pertama,menatap tempat kerja barunya. Panas membara, tanpa saluran air, tanpa aliran listrik, tanpa telepon, atau sejenisnya dibangun-kembali terbang pulang: mereka tidak kerasan tinggal di sana. epala suku setempat sudah memperoleh kesepakatan, bahwa tidak ada lagi kayu merah yang ditebang. Kayu jenis ini dianggap sakral untuk mereka. " Orang bodoh macam apakah?", kata pimpinan penebang kayu, bersamanya saya seharian di perjalanan. " Itu kayu terbaik di sini". "Sangat disayangkan hanya dibiarkan begitu saja."
Sehari perjalanan ke selatan terdapat pos dagang Binam. Dari tempat ini Dekai memperoleh pengiriman. Sebuah sistem yang tidak transparan dari para agen bahan bakar menyebabkan harga bensin yang menjerat, misalnya saja untuk charter sebuah perahu motor harus membayar 80 Euro, atau sekitar 1,2 juta rupiah per jam, sampai pada kota kabupaten maka senilai 600 Euro atau sekitar 8 juta rupiah.Di sana harga satu kaleng ikan sarden tiga kali lebih mahal daripada di pulau tujuan turis seperti Bali, pintu turisme Indonesia. Dan walaupun demikian akan terjual: sungainya tidak lagi memiliki ikan, hutannya kosong ditembaki.Binam didirikan di tengah rawa-rawa, keseluruhannya dari kayu, semuanya penyangga. Erosi kuat yang disebabkan oleh penebangan hutan, menyebabkan seluruh tempat ini setelah beberapa tahun tenggelam. ekarang beberapa kilometer darinya dibangun pemukiman baru sekaligus sebuah mesjid dan gereja. Dengan cara yang sama kembali tenggelam. Organisasi nirlaba dari luar negeri hampir tidak dikenal di West-Papua. Pemerintah pusat mengawasi orang asing dengan kecurigaan yang besar, karena mereka dianggap sebagai benih gagasan kemerdekaan papua. Para wartawan dilarang masuk, dan bahkan para turis membutuhkan sebuah surat keterangan ijin dari kepolisian atau militer untuk setiap desa yang mereka akan masuki. Di berbagai tempat bahkan tidak ada, atau tidak boleh sama sekali. Tentang kegiatan organisasi nirlaba lokal ujar Benni Giai" Pada tahun 2004 Majelis Kristen memulai sebuah usaha koperasi di sekitar sungai Mamberamo. Mereka mendirikan sebuah lapangan udara kecil dan mengirimkan seorang pastor, yang mengajarkan penduduk setempat memasarkan hasil ikan tangkapan mereka. Hingga saat itu orang-orang Indonesia yang mengendalikan perdagangan. Proyek tersebut memetik buahnya pada permulaan tahun 2005, di bulan April orang Indonesia harus menghentikan usahanya. Lalu mereka mengundang 10 anggota militer dan menuduh sang pastor sebagai teroris. Militer lalu merusak bangunan koperasi tersebut, gereja, rumah sang pastor, kemudian mengancam dia dan istrinya. Koperasi tersebut akhirnya dihentikan, perdagangan kembali dikendalikan oleh orang Indonesia. Beberapa tahun lalu Papua memiliki jalan trans pertamanya. Sebuah proyek mahal,dan ambisius. Jalan tersebut berhasil diselesaikan.Tetapi karena tidak dibangun satu-satunya jembatan besar penghubungnya, proyek ini menjadi terbengkalai. Hutan lebat kembali memenuhi aspal, jauh sebelum sebuah kendaraan pun melaluinya, tetapi tentu setelah perusahaan mengambil semua pohonnya yang bisa dijual.
Orang Australia relatif cepat memahami, bahwa jaman batu, abad pertengahan dan jaman plastik tidak dapat berhasil bertemu pada satu waktu dan tempat - tetapi seandainya terjadi, untuk mengintegrasikan bagian timur New Guinea dengan Australia.Pada tahun 1975 Australia melepaskan koloninya untuk merdeka. Papua Nuigini, atau disingkat PNG, lahir dengan Perundangan dan pemerintahan demokratis.Kedamaian di tahun-tahun berikutnya sangat menjanjikan: minimal papua bagian timur dapat mengatur dirinya dalam kerangka negara moderen. Seorang Anthropolog, Nafi Sangenafa adalah dekan dari fakultas ilmu sosial di sebuah universitas di Jayapura: "Secara politis, kami terbagi dua yaitu Papua dan Papua Nuigini. Secara bahasa kami juga terbagi: 252 bahasa hanya di barat, dan lebih banyak lagi di bagian timur, yaitu 840 bahasa. Dan walaupun suku-suku kami memperlihatkan kesamaan budaya, masing-masing tetap memiliki kekhasan yang sangat spesifik dan memiliki kecondongan untuk mempertahankannya. Oleh karena itu hampir tidak mungkin , semua suku ini dipersatukan dalam sebuah Papua.
Di Papua Nuigini pada awalnya konflik kepala suku hampir tidak terlalu mencolok terjadi di dalam aparat negara."Kami punya 18 penumpang di dalam Twin Otter. Pilotnya bertanya, apakah di antaranya ada yang bersenjata, dan meminta agar mereka menyingkirkan pelurunya. 16 orang mengeluarkan pistolnya, seorang darinya bahkan memiliki 2 pucuk. Waktu itu adalah pesawat yang isinya penuh dengan para politisi. Menurut sebuah studi yang dibiayai internasional pada tahun 2004 tentang enyalahgunaan senjata api di New Guinea. Anggota parlemen, polisi dan militer terbiasa dengan pemberian senjata api untuk memenangkan pengaruh dan suara. Konflik antar suku yang telah diredam oleh pemerintah Australia, kembali bergejolak. Mereka tidak lagi berperang dengan anak panah, melainkan dengan senapan-senapan mesin. Sampai-sampai korbannya tidak ada lagi, maka tidak ada lagi kemenangan yang diperoleh. Oleh sebab itu angka kematian tidak terbatas. Papua Nuigini memiliki angka kriminalitas tertinggi di dunia. 15 persen dari penduduk ibukota Port Moresby menjadikan pekerjaannya sebagai penjahat. Tidak sampai 10 persen dari pembunuhan masuk ke pengadilan atau ke dalam angka statistik yang berguna. Tak seorang pun yang sehat akalnya mau meninggalkan rumah domisilinya di tengah malam. Banyak kedutaan besar ditutup. Organisasi bantuan luar negri juga dihentikan. Pengamanan batas teritorial ditarik. Kerja pemerintahan di ambang kollaps. Melucuti para milisi suku di dalam hutan yang luas sampai di pinggir sangat sulit, seperti menekan balik pasta gigi yang keluar kembali ke dalam kemasannya atau ibarat melewati PNG dengan berjalan kaki. Antara sisi barat dan timur dari pulau hanya terdapat satu perbatasan, yang dapat diraih dengan perahu atau melewati lintasan lumpur. Jalur penerbangan sudah ditutup. Walau demikian lebih banyak orang dari barat lari ke timur daripada sebaliknya. Tampaknya dengan konflik antar suku yang dibuat sendiri,orang Papua lebih tidak bermasalah daripada dengan penindas dari luar.
"Nama saya Pineas Lokmere, umur saya 27 tahun dan baru saja menyelesaikan Universitas. Pada saat kejadian di Abepura berlangsung, saya ada penjaga asrama mahasiswa. Suatu malam datang para polisi. Waktu itu jam 2 pagi, kami sedang tidur. Mereka menendang pintu-pintu dan menembaki ke dalam asrama. Saya bertanya, ada apa,apakah ada surat pengeledahan? Mereka lalu menendangkan sepatu bot mereka ke wajah saya, setelahnya saya tidak bisa lagi berkata apa-apa. Mereka membawa kami semua, juga termasuk seorang anak berumur 7 tahun. Mereka berkata: kalian adalah orang gunung, para kanibal, kalian datang kemari untuk membuat keonaran, dan oleh sebab itu kami akan bunuh kalian sekarang. Terjadi pada bulan desember 2000. Seorang tak dikenal menyerang pos polisi pada malam hari. Aparat keamanan dalam aksi balas dendamnya menyiksa lebih dari 100 mahasiswa dan membunuh 3 mahasiswa. Yang bertanggung jawab atas peristiwa itu dinyatakan bebas di pengadilan. Benni Giai, yang juga seorang pendeta, menyalahkan para misi kristen juga sebagian turut bersalah pada kejadian kiamat tersebut.
Menurut Beni Giay " Istilah Cargoisme berasal dari ilmu sosial barat dan dari para misionaris, diturunkan dari impian orang Papua akan masa depan yang lebih baik. Orang-orang di sini membayangkan sejarah sebagai urutan dari zaman. Pada waktu para misionaris datang ke pedalaman dengan pesawat terbang, mereka membawa banyak barang bersamanya, dan orang-orang ini berpikir : Ah, sebuah jaman baru telah datang, ditandai dengan banyaknya barang pada angkutan udara: "Cargo." Lalu terciptalah istilah ini: Para misionaris selalu datang dengan Cargo. Agama memang tidak dapat dilihat dengan mata, hanya dalam refleksi atas apa yang orang lakukan atau apa yang mereka miliki. Dan orang-orang kami berpikir, Tuhan orang nasrani ini sepertinya terhubungkan dengan benda-benda materi. Jika kami mengikutinya , kami akan menjadi seperti para misionaris ini. Oleh karena itu banyak yang menjadi kristen. Kemudian mereka menjadi kecewa, karena tentu saja mereka tidak menjadi kaya seperti para misionaris kulit putih. Dari situ mereka memulai mengembangkan teori mereka sendiri. Atas dasar asumsi lama mereka, bahwa sebuah era baru akan datang, mereka lantas berpikir, bahwa para misionaris hanya membawa sebagian agama kepada mereka: sedangkan sebagian lainnya yang berhubungan dengan barang-barang seolah menjadi sebuah rahasia, yang tidak mau mereka bocorkan kepada kami. Para misionaris amerika hanya melihat kami dalam aspek ini saja. Ini tidaklah fair: kenyataannya padahal, bahwa gereja, misi, menolak memberikan aspek lain dari pengetahuan. Mereka memberikan kami alkitab lantas pergi meninggalkan kami, membiarkan kami dibunuh orang Indonesia.... Saya berpikir, dengan cara ini sebenarnya mereka mengirimkan kami ke neraka.
Seorang polandia bernama Bronislaw Malinowski menulis tentang kehidupan cinta dari suku Tobriander. Karya publikasi tahun 1915-nya kini menjadi dasar ilmu antropologi. Tak juga kurang artinya studi seorang amerika bernama Margaret Mead di tahun 1930-an, di antaranya tentang masturbasi pada anak-anak. Seorang antropolog bernama Gilber Herdt meneliti sebuah suku di Sambia, di mana dalam hubungan homosexual seorang anak laki-laki diberikan sperma kawannya yang lebih tua- sebagai bagian dari kedewasaan. Lebih dari 1000 suku kulit hitam di atas wilayah seluas hampir 1 juta kilometer persegi membangkitkan keingintahuan orang kulit putih, setelah ia menginjakan kakinya pertama kali di tanah New Guinea. Sebuah keingintahuan yang menyiksa, yang mungkin pertamakalinya akan hilang, jika pulau tersebut membuka rahasia terakhirnya termasuk jiwanya, dan suku terasing terakhirnya memakai baju olah raga yang paling modis.
Pdt. Rainer Scheunemann dalam bahasa Jerman mengatakan "HIV Aids, yang akan menjadi sebuah problem besar di Papua, sebagai wilayah HIV/AIDS terbesar di Indonesia, di mana angkanya sebenarnya sangat tinggi. Saat ini orang mengatakan penderitanya berjumlah antara 20-30.000 HIV terinfeksi, tetapi itu cuma angka resmi, jumlah yang sebenarnya menurut saya adalah 10 kali lipatnya. Dan hal tersebut untuk rakyat Papua, yang hanya terdiri dari 1,5 juta orang, sebuah angka yang sangat tinggi." Pendeta Scheunemann mengetahui angka tersebut, tetapi tidak tempatnya, di mana ia terjadi. Saya pernah di sana.
Pemukiman-pemukiman kecil di atas penyangga di dalam lumpur sebelah selatan Papua Niugunea yang tak berujung. Di mana tak satupun pilot terbang ke sana, begitu juga tak satu pun kapal laut yang berlabuh... Air pasang membajiri 10.000 kilometer persegi Mangrove setiap hari... Air minum datang bukan dari tanah, melainkan datang dari langit....Setiap kontak ke dunia luar hanya mungkin melalui perahu motor mahal menjerat... Di mana pada tahun 1961 seorang pewaris Rockefeller dari amerika hilang tanpa jejak, yang juga merupakan aksi pencarian terbesar dalam sejarah manusia, tetapi tak sekalipun sebuah petunjuk didapatkan mengenai nasibnya....Dari sana asal Kayu Gaharu. Sebuah kayu wangi, yang diolah menjadi pewangi dan di negeri arab memiliki harga yang sangat tinggi. Kayu Gaharu adalah akar dari keburukan,ujar Frans Mensei seorang anggota polisi."Ada banyak tempat di dalam hutan lebat, dimana para prostitusi dibawa ke dalam tenda atau kemah. Jika orang Papua membawa Gaharu, para mucikari menawarkan pertukaran dengan jasa sex. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa perempuan- perempuan tersebut dibawa dari suatu tempat dan sudah terinfeksi. Tetapi orang- orang dari pedalaman tidak mengenal penyakit kelamin. Selain itu mereka tidak dapat melawan godaan perempuan-perempuan putih cantik tersebut. Saat hal tersebut tercium, terdapat pemeriksaan resmi. Aparat keamanan dianggap sebagai penarik pelatuk dari perdagangan perempuan, tetapi tidak ditindak. Barter pewangi dengan sang kematian terus berlanjut. Jika suatu hari tidak lagi ditemukan Gaharu,artinya para pelacur sebagaimana orang negro sudah mati, dan para peraup keuntungan sudah lari ke negaranya.Saya juga akhirnya lari. Dehidrasi, dengan infeksi maag dan malaria para kanibal menaruh saya di atas perahu kayu dan membawa saya ke Sengo: Sebuah pos dagang terdekat bekas tempat misi yang berkembang pesat dalam 20 tahun. Landasan terbang lamanya tetap digunakan. Sebuah lintasan pasir bergelombang, yang di ujungnya diletakan beberapa penahan besi -agar pesawat pada saat berputar tidak tenggelam dalam lumpur. Satu minggu saya harus menunggu sang pilot. Setiap hari semakin pendek, di mana saya masih sadarkan diri. Ketika pesawat dari maskapai swasta Merpati akhirnya mendarat, saya mengira sedang bermimpi akibat demam. Semua warga desa berhamburan keluar menyambutnya, kedatangan pesawat di sini termasuk salah satu puncak acara sosial. Untuk para penumpang babak kekwatiran dengan kedatangannya belumlah berakhir. Sang agen akan berbisik-bisik, dan melelang tiket. Tiket tersebut harus dibayar kontan di muka. Tidak ada bukti pembayaran, juga daftar penumpang, dan karcis diterima pada saat naik.
iPapua saat ini banyak ditimpa keburukan, dan tampaknya tak satu pun pembebasan menjadi mungkin: Alkoholisme, minimnya Pendidikan sebagaimana Infrastruktur, Kehancuran Alam, Perang Suku, Wabah Penyakit, Perubahan Iklim, Kesektean, Penggunaan Senjata, Korupsi, Kriminalitas sindikat, dan Rasisme: yang pada akhirnya sejarah manusia yang tertutup ini, di sudut terjauh dihadiahi dosa-dosanya, yang bahkan tak sampai satu generasi habis terbantai. Menuju pada kehancuran oleh karena kegelapan dosa dan keserakahan: Para misionaris, yang berlomba-lomba dalam penyelamatan jiwa dan mewartakan surga di langit, tetapi tidak mampu melindungi domba-domba baru mereka di atas bumi. Para pengusaha, yang menjajikan kekayaan, tetapi hanya untuk dirinya sendiri. Politisi, yang bernafsu menggalang masa, tapi tidak mau bertanggung jawab untuk mereka. Semuanya dengan alasan, membebaskan New Guinea dari jaman batu.Tetapi apakah, ,atas nama Tuhan, untuk manusia berarti? Jika seandainya mereka membiarkan Papua dengan kanibalisme dan pulaunya dengan .New Guinea memiliki hutan yang merupakan paru-paru dunia terbesar setelah hutanamazon. Juga sebuah keanekaragaman budaya dan bahasa, yang dapat memberikan kita jawaban dalam ratusan tahun ke depan atas Sein (Being) dan Werden (Become) bentuk-bentuk kehidupan manusia. Sebagai salah satu laboratorium alam terkaya untuk variasi genetika tumbuhan. Dalam beberapa tahun kemudian semuanya akan berlalu. Banyak darinya, jauh sebelum ditemukan. Yang tersisa hanyalah lumpur dan penderitaan.
Diramu oleh Emanuel Goo

Label:

Minggu, 30 Maret 2008

NABIRE BUTUH ORANG ‘GILA’


Sepenggal Catatan Buat Para Kandidat Bupati Nabire

Oleh Emanuel Goubo Goo



Tinggal beberapa bulan situasi dan suhu politik di Nabire akan panas bahkan kini orang sudah mulai bebas berbicara tentang siapa bakal calon Bupati dan Wakil Bupati, sejak diresmikan baliho di depan kantor Bupati oleh KPU oleh KPU mencalonkan diri dengan partai apa , kemudian sejumlah partai telah mulai merekrut bakal calon dengan komitmen-komitmen politik. Wacana bakal calon bupati mulai disebut-sebut bahkan menyebut dirinya akan maju dalam bursa calon dalam pemilihan Bupati –Wakil Bupati pada 22 November 2008 . Sebut saja Daniel Buto, Isayas Douw, Natalis Degey, Dianus Youw, Frans Mote, Helly Weror, Ruben Marey, Thomas Tigi, Abner Kalem, dan Ayub Kayame , dan lainnya . Manusia Nabire khusunya orang Papua telah terombang ambingkan bahkan telah digilakan oleh masalah-masalah yang kian menggila maka manusia telah digilakan dengan kondisi yang terbelenggu sejumput persoalan .Dalam situasi seperti ini dan dewasa ini masyarakat Nabire butuh orang ‘Gila’ dengan kebijakan-kebijakan, program, visi-misi yang gila hingga menembusi kondisi yang ada dewasa ini sehingga membawa pencerahan bagi manusia Papua di Nabire dengan wajah orang‘gila’ yang baru .
Sepenggal Catatan Buat Para Kandidat Bupati Nabire


Dari sederetan nama bakal calon yang kini mewacana belakangan ini , jangan lupa bahwa sejumput persoalan di Nabire sedang menanti kehadiran orang “gila“ yang mampu menembusi ditengah onggokan persoalan yang kian berserakan di sepanjang jalan raya , di tengah masyarakat Kampung , dipingiran kota maupun di jantung kota Nabire ini .
Berikut ini sekelumit onggokan problema yang barangkali menjadi pekerjaan rumah bagi orang yang akan menjadi ‘gila’ pada 22 november 2008 .

Selain masalah Togel dengan bandar tunggal yang ada di jantung kota Nabire tepatnya di Kali Nona. Bandar togel yang kian menggila menguras uang masyarakat, orang ‘gila’ harus masuk menumpas kelakuan orang gila yang memeras uang rakyat melalui judi togel .

Masalah pendulangan Illegal dan Illegal logging yang kian menggila merusak manusia dan lingkungan alam . Dimana para pemburu emas mensuplai minuman keras yang bermerk sampai yang milo kedaerah pendulangan yang akhirnya merusak manusia Papua . Sebab rata-rata konsumen adalah orang Papua . Kemudian lingkungan alam sekitar daerah pendulangan dirusak dengan aktivitas pendulangan dengan dibawa masuknya alkon yang besar .Belum lagi dengan sejumlah obat-obatan yang digunakan untuk memburu emas dalam waktu sekejab sehingga terjadi pencemaran lingkungan ( air, tanah , hutan dan lainnya) .
Ditambah lagi ledakan penduduk diareal lokasi pendulangan sehingga terjadi kriminalitas . Disini dinantikan orang gila yang berani mengambilkan kebijakan yang agak kegilaan.

Lalu masalah PLN selama ini berbagai upaya dilakukan pelayanan PLN kepada para pelanggan termasuk pengadaan mesin gengset dengan mengeluarkan dana yang besar melalui konsorsium namun belum memberikan solusi yang akhir bahkan masih bermasalah . Ini baru masyarakat diperkotaan lalu masyarakat dipinggiran kota ini belum menikmati penerangan sebagaimana warga Wanggarsari, Lagari dan Topo dan sekitarnya .


Masalah lain yang patut menjadi catatan bagi orang gila tumpas semua kendaraan plat luar yang kian menjamur di Nabire baik kendaraan roda dua maupun roda . Orang ‘gila’ harus berani tumpas keadaan yang kian gila-gilaan ini .

Masalah mama-mama Papua yang selalu berjualan di bawa los-los atau berjualan diluar pasar, Mereka selalu berjualan diluar pasar dengan bermodalkan seberkas karton berjaulan diatas trotoar, ditanah beratapkan langit . Mereka berjualan ditengah kota Nabire , dipinggiran perkotaann seperti lorong kota baru Kiri , Pasar Sore, Kalibobo, karang Tumaritis, Oyehe, Karang Mulia , SP I Wanggar, Depan hotel Maju dan lainnya . Mereka terpinggirkan Bahkan terlupakan dari kebijakan yang berpihak dan memberdayakan . Dalam realitas mereka sangat tersisih . Adakah pasar khusus buat mama-mama Papua ? . Ini butuh orang gila , dengan sikap kegilaannya dapat mereposisi mama-mama Papua untuk membangun pasar khusus Perempuan . Orang gila patut belajar dari Pemerintah Wamena , sebagaimana pemda telah membangun pasar local khusus masyarakat local . Adakah orang ‘gila, dapat membangun pasar local khusus perempuan Papua di Nabire ?

Catatan lain yang patut ditilik orang ‘gila’ akan peredaran miras yang berlebel maupun minuman local ( CT, saguer, bobo dan lainnya ) juga proteksi tempat penyulingan sebab beberapa waktu lalu pihak aparat keamanan sempat disergap di Bumiwonorejo, KPR Sirwini dan beberapa tempat lain yang ada indikasi produksi juga pemasaran miras illegal . Disini diperlukan kebijakan gila tanpa memikirkan kehilangan jabatan dan kekuasaan. Hal itu orang ‘gila’ patut gebraki sebab miras biang kehancuran orang Papua , baik manusia,kesehatan ,penididikan , kehidupan keluarga dan masyarakat .Maka orang gila mesti berani masuk dalam bara api yang sedang menyala membakar manusia Papua . Manusia gila berani masuk dalam bara api yang membumihanguskan manusia Papua di Nabire.


Perlindungan akan manusia dan kekayaan-kekayaannya, baik kekayaan alam, intelektual, potensi budaya, dan potensi lainya yang berada diatas Negeri Nabire yang notabenenya milik masyarakat Nabire . Disini saya kutip komentar Ketua Dewan Adat Wilayah VII MePago bahwa Orang Papua miskin diatas tanah sendiri ,sementara semua kekayaan alam, kekayaan budaya( intelektual) dan potensi manusia Papua dimanfaatkan secara gilaan-gilaan orang orang luar demmi mendapatkan kekayaan pribadi. “ secara keseluruhan tidak dihargai hak-hak kami atas tanah, air, kekayaan alam , kekayaan intelektual maka didambakan ada orang gila yang datang menyelamatkan semua ini supaya dengan kegilaan dapat dibijaki demi perlindungan atas segala yang ada di tanah ini“ tegas Edowai pada suatu kesempatan . Disini dapat ditarik benang merah bahwa butuh perlindungan masyarakat Papua dengan segala kekayaan sehingga mimpi menjadi manusia Papua menjadi Tuan di Negeri Sendiri sedikitnya terwujud . Siapa yang berani melakukan gebrakan tersebut, yang jelas hal itu butuh keberanian dari orang ‘gila’ .

Bagaimana dengan masalah fasilitas pelayanan umum ?Dibidang kesehatan meninggalkan kesan buruk atas pelayanan kesehatan dimata masyarakat Nabire . Kita RSUD Nabire Kendatipun telah berhasil gedung yang mewah namun dalam pelayanan kepada public terkesan buruk.Kita tilik fasilitas dasar yang digunakan untuk pelayanan kepada pasien sudah usang dan bahkan tidak ada pengadaan walaupun miliaran rupiah dari APBD dianggarkan setiap tahun. Biaya pengobatan pun kadang dibebankan kepada pasien rawat dengan nominal yang tinggi . Lantas apakah tidak ada dana otsus khusus untuk kesehatan . Lantas nyaris setiap distrik mengalami kekurangan tenaga medis , kekurangan ini sangat terasa ketika SPK ditutup . dasar kesehatan bagi masyarakat Nabire . Masalah Kesehatan Ibu dan Anak serta Gizi Buruk di daerah-daerah terpencil telah meminta perhatian khusus . Lalu masalah lebih trend lagi HIV/AIDS .Sudah sekian nyawa telah melayang sia-siia akibat penyakit ini . Padahal jelas-jelas daging tersebut telah kadarlaursa dan diduga daging yang terkena flu burung .
Disini bagaimana kepiawaan orang ‘gila’ meracik kembali pelayanan dasar kesehatan.

Masalah kesehatan lain penjualan makanan kadaluarsa terutama daging ayam yang marak dijual di daerah pedalaman Nabire . Disekitaran kota Nabire telah dilarang pertanian dan peternakan untuk penjualan ayam potong hidup maupun daging ayam boiler namun di daerah pedalaman Nabire di drop berkarung-karung dengan mobil Estrada . Dalam penjualan laris bak kacang . Disini,walapun pemerintah telah melarang tetapi pemburu dolar melalui usaha ini . Akibat masyarakat mengkonsumsi terjangkit berbagai penyakit baru . Bagaimana dengan kegilaannya menyikapi persoalan ini ? Apakah orang ‘gila’ pentingkan uang atau keselamatan manusia ? tergantung kegilaan dibijakinya .

Pemberdayaan ekonomi kerakyatan terutama ekonomi orang Asli Papua di Nabire . Perekonomian masyarakat Papua telah mati . Tak berjalan . Semua peluang dan aspek ekonomi dilkuasai oleh orang luar Papua, mulai dari monopoli tempat jualan dipasar hingga mengejar proyek-proyek besar lewat CV/PT . Orientasi hidup orang Papua konsumtif . Semua peluang usaha telah dimonopoli sehingga orang Papua hanya jadi penonton di negeri sendiri . Paling-paling usaha yang dilakoni orang papua itupun mama-mama yang berjualan diluar pasar hanya jualan ubi, keladi , pinang . Sementara usaha lain dikuasai oleh orang lain . Potensi orang Papua tersedia , tanah , kekayaan alam , namun mereka terjepit , dicekik dengan ongkos transportasi yang mahal . Disini perlu ada kebijakan yang gila untuk menghidupkan system yang sedang monopolistis ini . Perlu kebijakan yang memihak pada kaum yang lemah, tak berdaya seperti mama-mama ini .Perlu ada kebijakan khusus untuk menghidupkan ekonomi orang Papua dinabire . Soal kemampuan menjalankan uasaha terbukti banyak perempuan cukup sukses , seperti Mia Rumawi dengan rumah makan di Kalibobo, Nancy Worabay dengan usaha Roti Acinya di Siriwini ,Elis Agapa dengan kiosnya di Kalibumi dan lainnya . Maka tinggal menyalakan lampu-lampu usaha dengan bekingan modal sehingga mereka tidak menjadi penonton dinegerinya sendiri melainkan dapat mandiri dalam persaingan dalam perokonomian di Nabire .


Kondisi pendidikan jauh lebih parah, dewasa ini tgelah dibuka sejumlah sekolah baru diberbagai distrik mulai dari SD sampai SMA namun dibangun hanya gedung sekolah toh, sementara isi di dalam gedung kosong melompong, baik jumlah murid, jumlah tenaga guru, kesejahteraan guru, maupun fasilitas belajar mengajar .Sementara sekolah-sekolah yang sudah dibangun sejak lama, masih kekaurangan tenaga guru namun dengan dibukanya sekolah-sekolah baru malahan menambah masalah seperti kekuarangan tenaga guru dan lainnya sehingga meninggalkan masalah diatas masalah .Dengan dibukanya sekolah baru bukan solusi tetapi menambah persoalan bahkan dapat dikata sedang melakukan pembodohan terhadap gemnerasi penerus . Lalu pembebasan biaya SPP bagi siswa yang digembor-gemborkan hanya sebatas kampanye sementara ada banyak sekolah yang masih dipungut SPP,OSIS, BP3 dan lainnya sehingga membuat masyarakat tamabah beban .

Selain terurai diatas masih ada masalah yang tak kalah pentingnya yang patut dilihat penyediaan dan pelayanan fasilitas umum yang belum memadai seperti pelayanan PDAM untuk menjangkau seluruh masyarakat Nabire , kebanyakan masyakat kota Nabire masih menggunakan air subur , atau pembangunan infrastruktur jalan yang dikejar hanya uang semata . Pengaspalan jalan misalnya dikeluarkan miliaran dana untuk pengaspalan tetapi hanya tambal sulam .Ditutup hanya bagian lubang saja sementara kualitas jalan jauh dari gapaian dan harapan sehingga setiap tahun tambal sulam terus sehingga setiap tahun pula dianggarkan Pemerintah Daerah . Padahal dana tersenut dapat digunakan untuk pembangunan lain . Pengusaha yang hanya kejar uang proyek lebih baik disingkirkan dari negeri Nabire ini .


Penulis adalah Wartawan Suara Perempuan Papua & Kontributor Papua Pos Nabire Berdomisili di Pinggiran kota Nabire.

Label: