Kamis, 31 Januari 2008

Saat Perempuan Bicara

KALAU bukan sekarang, kapan? Kalau bukan kita, siapa lagi? Ya, inilah saatnya perempuan bicara. Saatnya kaum hawa mengungkapkan pendapatnya. Demikian ajakan dari produsen teh SariWangi yang bekerjasama dengan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan meluncurkan program kampanye “Mari Bicara”, sebuah gerakan sosial untuk perempuan Indonesia yang lebih baik.
Sebagaimana dikutip situs wikimu, mulai Jumat (2/2) besok, rencananya sudah mulai ditayangkan iklan untuk mensosialisasikan program itu. Ada tiga iklan yang disiapkan Sari Wangi.
Pertama, saat sang istri hendak mencuci piring di dapur. Keran air ternyata rusak dan menyemburkan air. Bagaimanakah sang istri berbicara kepada suaminya untuk mau membantu memperbaiki keran rusak itu?
Kedua, iklan yang menggambarkan sang istri baru saja mengiyakan ajakan temannya untuk menghadiri reuni sekolahnya. Sang suami pulang dan mengajak sang istri untuk datang ke pesta pernikahan anak pimpinan kantornya, yang diadakan pada saat hampir bersamaan dengan acara reuni sekolah sang istri. Apakah sang istri menolak ajakan sang suami untuk datang ke pesta pernikahan anak pimpinan kantor suaminya?
Ketiga, sang istri sedang belanja di supermarket dan mendapat pesan singkat (SMS) dari suami, untuk bertemu di tempat favorit. Sang istri mengira tempat favorit itu adalah restoran langganan mereka berdua, sementara sang suami siap di tempat favoritnya, di kamar tidur keluarga mereka. Lantas, apa yang terjadi?
Nah, bagaimanakah sikap sang istri dan kaum perempuan umumnya untuk berkomunikasi dan menyampaikan hal-hal yang ingin diungkapkannya kepada pasangan mereka? Mungkin ini menarik diamati. Apalagi menurut brand manager teh SariWangi, Nanang Siswanto, bahwa penyebab terbesar perceraian yang mencapai 56 persen dari keseluruhan perceraian adalah masalah komunikasi antar pasangan.
Nah, para perempuan, bagaimanakah Anda berbicara dengan pasangan Anda? Dan kaum laki-laki, bagaimana pula kalian menanggapi bila pasangan Anda berbicara kepada Anda? (you)

KSP Bina Masyarakat Mandiri Terbentur Modal

Koperasi Simpan Pinjam Bina Masyarakat Mandiri yang terletak di bilangan jalan Pipit Kaliharapan ini belum berjalan lama 2 tahun lebih namun berkembang pesat dan Koperasi satu-satunya yang dikelola oleh anak Negeri Papua Otniel Pekey,Amd.SE. Koperasi Simpan Pinjam ( KSP ) Bina Masyarakat Mandiri berdiri sejak 4 september 2006 dengan modal 10 juta . KSP dirintis Otniel Pekey pria kelahiran Lembah Kamuu Nabire pada 10 oktober 1973 lalu yang dibantu oleh 15 karyawan. 2 orang tenaga administrative , sedangkan 13 lainnya sebagai pencari nasabah dengan dengan mendapat komisi dari nasabah . KSP Bina Mandiri Masyarakat atau Bina Perkreditan Rakyat yang dirintis Pekey dengan nomor akte pendirian : 555/235/BH/Indagkop ini berjalan dengan menawarkan 3 program utama ,selain mandiri prima ( tabungan ) , mandiri dalam dana beasiswa yang yang ditujukan kepada para orangtua ekonomi lemah juga bagian perkreditan . Perkreditan ada tiga jenis , yakni kredit modal awal pengusaha kecil yang hingga kini tercatat 150 nasabah, kredit bulanan sebanyak 225 nasabah ,kredit mingguan 120 orang dan jenis kredit harian sebanyak 300 orang . Dalam pemberian kredit baik modal awal, mingguan, harian dan bulanan dipatok sampai kisaran RP 1.000.000 . Dalam pemberian kredit tidak terbatas pada satu etnis ataui agama , serta status social tertentu, . Dengan berbekal KTP dan Foto memberikan dapat kredit dari KSP Bina Mandiri Masyarakat dengan besaran kredit sampai 1 juta rupiah . Hingga hari ini modal dana 10 juta dengan bunga yang telah dikembangkan telah tersalur habis kepada nasabah , sementara permohonan kredit kian meningkat. Terakhir terdapftar 10 orang telah terdaftar dimeja KSP Bina Mandiri untuk kredit ,namun hingga hari belum diberikan kredit sebab dana telah tersalur semua kepada nasabah . Disini KSP membutuhkan modal pengembangan.

Menurut Otniel Pekey, Amd.SE Direktur KSP Bina Mandiri yang ditemui media ini kemarin pagi ( 30/01) diruangnya menandaskan dalam mpenyaluran kredit ini pihak KSP memberikan semua rata –rata senilai 1 juta mengingat modal yang dimiliki sangat kecil dan dikehendaki semua nasabah sama rata . Semua orang dapat bagian maka diberikan nilainya semua sama . Sampai sekarang ini nasabah yang ada dan dibina lewat simpan pinjam ini telah mencapai 795 nasabah . Penyaluran tidak pandang status social, suku dan agama , baik orang Moni, Mee, warga transmigran, Pantai yang memiliki usaha kecil-kecilan untuk mendongkrak usaha mereka dengan persyaratan fotocopy KTP, dan Foto, sekaligus dibuat berita acara bagi masyarakat dan surat kuasa bagi PNS . Pada prinsipnya kredit yang diberikan dari KSP ini dengan dikasih dengan iklas untuk membantu usaha masayarakat maka nasabah juga diharap datang setor dengan iklas . Tak perlu ada rasa beban . Selama menjalankan KSP tidak ada modal atau pinjaman dari pihal lain selain modal awal 10 juta dari kantung sendiri . Banyak nasabah yang datang pinjam yang nilainya lebih besar tapi kami dapat berikan kredit paling tinggi 1 juta mengingat nasabah lain yang banyak . Karena modal dana yang diputar selama ini habis tersalur sebanyak 10 pemohon yang terdaftar kami belum berikan kredit kepada calon nasabah. Memang awal berjalan KSP ini pihak managemen telah menyepakati akan memberikan paling 3 juta namun karena nasabah kian melonjak maka dibatasi sampai pada 1 juta rupiah .” Kami sangat mendambakan untuk kembangkan usaha ini yang lebih besar tapi sampai saat ini belum ada bantuan modal untuk bina masyarakat maka belum bisa. Semua terbentur dana. Walaupun via gemuruh otsus yang digembor-gemborkan untuk pemberdayaan ekonomi rakyat namun sampai pada titik pembekingan dana kepada masyarakat belum dilakukan seperti usaha kami anak Papua satu-satunya di nabire ini belum terrsentuh sesen pun dari pemerintah “ urai Pekey .

Ketika disinggung pengembangan karyawan, Pekey mengaku hari senin setiap minggu berjalan sebelum turun ke lapangan mencari nasabah dilakukan traning, hal itu dilakukan demi meningkatkan kinerja pelayanan dan pengembangan KSP Bina Mandiri Masyarakat .” Dari 16 karyawan yang ada ini setiap hari seninkami melakukan traning dalam menjaring nasabah dan meningkatkan pelayanan sekaligus memajukan pengembangan KSP. Soal penggajian kata Pekey 13 karyawan dilapangan diperhitungkan dari nasabh yang didapat . Mereka mendapat komisi dari nasabah . Dalam pemberian kredit ,kami berprinsip bahwa karena datang pinjam dengan iklas maka disetor pun dengan kerelaan dengan dasar pemikiran kami topang dana dengan 1 juta tapi mereka harus dapat lebih dari itu melalui usaha yang dilakoni agar adanya peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat akar rumput .Sampai saat ini belum ada nasabah yang lari dari pinjamannnya. KSP sangat berkeinginan untuk kembangkan usaha ini kepada usaha yang lebih besar tetapi hingga kini belum ada bantuan modal dari pihak lain untuk bina masyarakat . Jangankan modal, fasilitas kantor saja masih digunakan ala kadarnya . Selain minim fasilitas computer, ATK, meubelair saja pakai kursi dari batang kayu, dan lainnya . Kami manfaatkan ala kadarnya “ urainya .


Jenis usaha Koperasi terutama simpan pinjam ini orang asli Papua di Nabire ,baru Otniel Pekey bersama rekan-rekannya yang merintis namun terbentur dengan modal . Sementara modal awal usaha mereka telah habis dipinjam. Seketika itu pula sejumlah calon nasabah sedang antri meminjam dana tapi KSP tidak mampu menjawab sebab tidak ada lagi dana .Telah terdaftar 10 calon nasabah menunggu pencairan tapi tidak ada dana sebab masih diputar lewat pinjaman . Disinilah letak masalahnya . Lalu siapa yang hendak beking ?
“ Putra daerah satu-satunya yang merintis KSP di Nabire adalah Bina Mandiri Masyarakat tetapi usaha ini tenbentur dengan modal ,sementara calon nasabah kian meningkat . Pemerintah termasuk intansi terkait belum membantu topangan modal KSP Bina Mandiri Masyarakat. Sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah . Karena kekurangan dana kami belum selesaikan calon nasabah yang sedang antri untuk meminjam uang “ keluh Pekey mengaku pernah mengikuti traninng selama setahun di bank Niaga dan BPR di Timika ini .

Awal Mula KSP Bina Mandiri Masyarakat ini dirintis Otniel Pekey dengan 3 program priotritas selain Mandiri Prima ( tabungan) , Mnadiri Dana Beasiswa serta perkreditan modal dasar 10 juta yang terus berkembang hingga mencapai 50 juta tetapi tetapi diputar lagi lewat pinjaman nasabah maka kas kosong . dengan dana yang sedang diputar ini tidak mampu menjawab dan membantu usaha masyarakat ekonomi lemah . “ Kami butuh bantuan modal dari pihak ketiga dalam rangka meningkatkan ekonomi rakyat “ kata pria mantan buruh kasar roti dan Es Sapta Jaya Paldam Jayapura ini . Emanuel goo

Dalam implementasi 3 program prioritas , salah satunya mandiri dana beasiswa dengan penawaran , setoran 950 ribu per tahun selama 2 tahun TK dengan tawaran bunga1juta, kemudian SD 950 ribu pertahun selama 6 tahun dengan bunga 2 juta , Kemudian SMP 3 tahun dengan setoran 950 ribu pertahun dengan bunga 3 juta , sedangkan SMA 3 tahun setoran pertahun 950 ribu dengan bunga 4 juta . Perguruan kita kasih dana 10 juta dan akan ditanggung KSP per semester selama kuliah . “ untuk program telah banyak nasabah menarik dan menginvestikan untuk masa depannya anak-anak “ urai pekey alumni Asmi Jayapura juga jebolan Fakultas Ekonomi Uncen Jayapura ini

“ selama 1 tahun malang melintang di sekratariat pemerintah Kabupaten nabire untuk berjuang mendapat bantuan modal tambahan dari modal awal yang kami miliki ttetapi belum ada tanggapan, jawaban . Masyarakat tau akan otsus untuk orang Papua maka diajukan permohonan tapi trada bantuan untuk kami . Lihat saja selama dua tahun berjalan kami menggunakan kursi dari potongan kayu bulat .Putra Papua bisa, mampu bina masyarakat dengan upaya rintisan anak negeri tetapi hanya karena modal terbentur usaha kami . Motivasi dan dukungan dalam bentuk modal dan fasilitas dari pihak yang berkuasa kepada kami anak Papua dalam pengembangan rintisan usaha-usaha mesti didukung dalam rangka membina orang Papua . Koperasi yang dirintis orang lain banyak mengambil untung yang lebih besar dari orang Papua dengan bunga yang lebih besdar . Semnetara orang Papua sendiri miskin diatas tanah sendiri padahal orang lain mengeksploitasi orang Papua denmgan memanfaatkan semua yang ada di Papua termasuk manusia Papua .Sejumlah program yang terangsek hanya tingkat implementasi terbentur modal tambahan . “ kami tidak butuh perhatian khusus tetapi butuh bantuan modal tambahan demi mendukung pengembangan usaha yang lebih besar. Kami mau pemerintah Nabire melihat usaha anak negeri Papua satu-satunya dibidang perkoperasian ini . Usaha KSP jatuh bangun dengan modal pengembangan . Sekarang modal kami habis dipinjam maka ada sekitar10 berkas calon masih tertampung hanya karena modal awal tersalur kepada nasabah . Maka kami butuh dana lagi “ timpal Pekey (emanuel goo)

Rabu, 16 Januari 2008

Perempuan Papua Memikul Beban Ganda

Setiap hari seorang ibu bangun pukul 05. 00 pagi, lalu, mempersiapkan makanan bagi keluarga. Antara pukul 07- 08.00 perempuan yang ditemani anak-anak berusia balita bergegas menuju kebun. Di kebun ia bekerja seharian penuh mulai dari membuat bedeng, menanam, memanen hasil kebun yang sudah ada sambil menyiangi rumput. Ketika matahari condong ke bagian barat ia bergegas membawa pulang hasil kebun. Saat itu pula ia memikul beban berat sehingga tubuhnya membongkok kedepan mencari titik keseimbangan. Sementara seorang seorang bocah kecil naik duduk di punggung ibunya. Ia berjalan menyusuri kebatuan, melewati lembah yang penuh payah ( lumpur ) serta meniti tebing yang curam.
Setiba di rumah masih ada saja setumpuk pekerjaan yang segera dikerjakan ia membagi makanan bagi keluarga dan ternak. Memberi makan ternak, mengambil air yang jaraknya cukup jauh dari rumah lalu memasak makanan bagi keluarga terakhir ia melayani suaminya.Sementara perempuan gununung yang hidup di daerah perkotaan, selalin melakukan berbagai pekerjaan, ia harus berjualan di pasar guna membayar sekolah anak- anak atau pun membeli keperluan rumah tangga. Itulah ritme kehidupan perempuan-perempuan yang mendiami pegunungan tengah papua. Mereka bergerak dari rumah- kebun- ternak-kembali ke rumah lagi.
Lantas apa yang dilakukan oleh laki- laki selama perempuan melakukan pekerjaan diatas ? Apakah benar perempuan menanggung beban kerja yang berat ? Bagaimana akses perempuan terhadap kesehatan pendidikan dan lainnya, sementara waktu kesehariaannya dia melakukan banyak pekerjaan ?
“Itulah mutiara- mutiara hitam yang terpendam dan tak terlihat di balik gunung- gunung “ Kata Clasina. Saya lebih menangis dengan perempuan- perempuan di pedalaman, bagaimana tidak mereka sangat menderita. Dia melahirkan menggendong anak- anak, pergi jualan ubi, nasi turun gunung. Mereka tegar menghadapi penderitaan dan menanggung beban yang cukup berat. Mereka menyekolahkan anak- anaknya lalu jadi anggota DPR/ ataupun Sarjana, tapi apakah mereka perjuangkan penderitaan hidup mama- mama kita ?. kalau sudah dapat kursi empuk dan uang banyak, acap kali lupa akan jasa baik dari seorang ibu yang berada dibalik gunung. Mereka yang ada di balik gunung lebih menderita, sambil gendong anak dia masih makanan untuk keluarga sementara suaminya jalan di depan hanya pegang parang. Anak-anak mereka banyak jadi sarjana atau kerja di kantoran tapi tak ingat akan noken-noken (ibu) yang ada di balik gunung. Naik gunung turun gunung sendiri untuk mencari uang buat bayar sekolah anak mereka. Karena sangat berat beban kerja yang dipikul maka sudah saatnya kaum pria meringankan beban mereka lewat kerja sama, membantu istri. Hormati mereka dengan kerja sama (suami, laki-laki) guna meringankan beban kerja, ujar Sin kepada suara perempuan papua.
“ Mama- mama kerja terus menerus, kebun, ternak, urus anak jualan di pasar dan lainnya. Serba ekstra perannya, sehingga tidak ada waktu istirahat melepaskan kepenataannya, maka ia rentan terhadap berbagai penyakit, kata Theresia Dogomo. Karena sepanjang harinya bekerja mereka abaikan mengurus diri, kesehatan, dan akihirnya cepat tua.

Mereka serba ekstra, dari pagi sampai malam dia kerja terus. Ia merasa tanggung jawabnya maka kadang mengabaikan kesehatan dan mengurus dirinya. Sekalupun hujan, sakit, lapar, malam, dia kerja terus. Sekarang perempuan harus mampu berusaha mengejar kesejajaran antara laki dan perempuan melalui pendidikan. Dari pendidikan itulah kita dapat melihat dunia yang luas, akan bagaimana hak- hak kita yang terabaikan dapat kita rebut kembali.
Hal senada pun datang dari ibu Natalia Kobogau, kita dibeli dengan mas kawin tinggi, maka mereka harus piara anak, ternak, bekerja di kebun. Serta mereka itu merasa “ kewajiban” menjalani dan menanggung semua itu. Karena di- bayar dengan mas kawin yang mahal, maka takut untuk menyeleweng kepada suami maupun kerabatnya yang menunjukkan harga dirinya sebagai perempuan; Sekarang ibu- ibu sadar bahwa anaknya harus di sekolahkan maka selain mereka kerja juga jualan di pasar untuk membayar sekolah anaknya. Anak perempuan harus sekolah supaya dia tidak seperti saya ( ibunya ) yang kehariannya bekerja di kebun. Hal itu di latari penderitaan seorang perempuan lebih menderita di banding perempuan di daerah pantai, tandasnya kepada suara perempuan.
Budaya kita lanjutnya setiap hari kerja, naik gunung, terun gunung, melintansi lembah- lembah hingga beribu kilo meter sambil memikul beban diatas punggung guna menghidupi keluarga. Karena kehidupan perempuan gunung sepeti itu, maka kepada anak perempuan yang keluar daerah untuk menyenyam pendidikan di berbagai sekolah diharapkan membawa pulang sepanggal ijasah bukan untuk baku lihat lalu bawa pulang anak. Tak perlu kuliah untuk baku lihat dengan laki- laki lalu bawa pulang anak tapi belajar serius bawa pulang sepanggal ijasah. Biarlah mama- mama ini menjalani hidup mereka apa adanya, tetapi anak- anak perempuan harus belajar untuk merobek segala kekuatan budaya yang meningkat kita sebagaimana hak- hak kita dibatasi.
Perempuan menanggung beban kerja berat ini lebih di sebabkan oleh laki- laki memiliki sifat dan padangan kurang baik, kata Yulianus Mekey. Selain sikap Paternalistik ( kebapoan ) juga laki- laki memandang dan melihat bahwa perempuan hadir sebagai hamba, bukan dia datang untuk mendampingi suami. Perempuan dianggap hamba tenpa memberikan hak- hak dia.
Perempuan dalam kehidupannya menanggung segala beban pekerjaan, karena itu tidak perlu menanggung segalanya hanya seorang perempuan tapi sebagian dapat di lakukan oleh laki- laki agar ada keseimbangan. Perempuan bukan mesin pekerja. Sebuah mesin mobil saja perlu istirahat, apalagi tenaga manusia perlu ada waktu jeda melepaskan segala kepenatan. Perempuan dan laki- laki harus bekerja bersama, tanpa berat sebelah; Di ingatkan pula pepatah bahwa berat sama di pikul, ringan sama di jinjing. “ Memberi hikmah bahwa pekerjaan seberat apapun dilakukan keluarganya akan ringan adanya ini tandas Mekey.







“ Perempuan tulang punggung untuk menghadapi keluarga kata Marion Gobay, mantan Anggota DPRD Nabire. Bagaimana tidak dari pagi hingga sore mereka kerja.
mengurus ternak, anak, kebun mengurus dalam rumah, sehingga tidak punya waktu. Mengingat tidak punya waktu, maka kami mencari upaya bagaimana ibu-ibu yang kerja di kebun tetap bekerja lalu di bawa kepasar. Lalu ibu lain di pasar yang memasarkannya. Hal itu kami sedang jalani bagi mereka yang tingga di pinggiran kota Nabire melalui Ikatan perempuan Peduli ekonomi rakyat guna sedikit menjawab kecapean mereka, sebab kita lihat sepulang dari kerja di kebun, dia langsung ke pasar jualan, pulang kerumah dalam kelelahan. Ini kita tidak perlu biarkan. Penanggung beban keluarga adalah perempuan dan tidak pernah menuntut suami, terhadap keluarga. Kerja, sebab itu merasa tanggung jawab untuk turut kerja perempuan banyak kerja tapi bicara sedikit. “ Dapur harus ada asap agar memberi makan kepada anak suami serta kerabat lainnya hal itulah yang di pegang hampir semua perempuan. Ujarnya. Kendati suami memberi nafkah tapi mereka tidak cukup dengan apa yang di kasih dari suami, maka perempuan harus melengkapi. Suami membuat kebun besar tapi untuk melengkapi gizi dia pergi mencari udang atau ikan di danau atau di kali. Hal ini bukan meremehkan laki- laki atas nafkah yang diberi, tapi itulah lebih pada pengabdiannya kepada suami dan anaknya agar martabat dirinya muncul sebagai perempuan sejati.
Beban kerja lebih- lebih menanggung kesejahteraan keluarga perempuan memegang peranan yang cukup penting. Rata- rata mereka menanggung beban kerja cukup berat. Kata Piet Waine Peranan lebih pada pekerja, sehingga hubungan dengan dunia luar dirinya terbatas. Di samping bekerja dikebun mereka mencari udang, ikan, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, lebih- lebih mereka yang tinggal di pinggiran danau.
Sebelum Sivilisasi ( kontrak ) beban kerja antara laki- laki dan perempuan cukup seimbang tapi sekarang dengan adanya pemerintah dan agama, lapangan kerja laki- laki hilang, maka yang ada sekarang laki- laki hanya duduk-duduk Urus Perkara, saling menyerang ungkit- ungkit masalah, untuk mendapatkan sejumlah uang. Maka akhirnya semua beban kerja ditanggung oleh perempuan. Tempat cari rotan, berburu, yang pesta babi ( yowo ) sebagai sarana perdagangan bagi orang mee sudah tidak ada akibat pembangunan, maka dengan sendirinya lapangan kerja laki- laki sudah sirna. Berbagai lapangan kerja baru muncul seperti judi, dimana ada tempat ramai- ramai di situ ada judi untuk cari uang . Ini menjadi suatu lapangan kerja baru. Memang beban kerja perempuan cukup berat sebab ia merasa tanggung jawab terhadap suami/ anak. Mereka pagi- pagi keluar pergi beli sayur di luar kota dengan mengeluarkan ongkos transportasi besar, tenaga terkuras, uang yang ada habis untuk ongkos taxi. Sebenarnya baik usaha mereka tapi energi maupun biaya yang ada terbuang sia- sia karena pagi keluar dan pulang sore harinya maka anak dan suaminya terlantar. Hal ini banyak terjadi di pinggiran perkotaan seperti di Jayapura.




Karena menanggung beban hidup yang cukup berat, ada yang masuk dalam hidup pelacuran dengan menjual harga diri untuk mendapat uang. Perempuan mencari pekerjaan yang halal adalah memiliki harga diri seorang perempuan, sekalipun memikul beban kerja cukup berat. Di kampung, seorang perempuan pagi- pagi memasak makanan, siang pergi kerja, diwaktu tertentu pergi ke gereja, kembali lagi kerja, Urai Waine.
Saya teringat di Bilai ketika di gelar musyawarah pastoral tentang peranan perempuan dan laki- laki dalam keluarga. Seorang Sonowi ( tokoh masyarakat ) mengatakan “ Dulu kita yang cuki perempuan tapi sekarang perempuan cuki laki- laki, memang pernyataan itu bahan lelucon tapi mengandung sarana refleksi. Dalam pernyataan itu tersirat laki- laki dulu berburu, sekarang tidak berburu sebab ada babi, babi siapa yang piara ? perempuan. Untuk beli babi, dulu laki – laki beli dengan Kulit Bia ( Mege ) tapi sekarang membeli dengan uang. uang ada di mana ?. cari di noken- noken perempuan, sebab mereka yang jualan di pasar. Dulu pesta babi di kuasai oleh laki- laki, tapi sekarang pasar di kuasai perempuan. Dulu Youwo ( pasar rakyat ), laki- laki pergi beli dengan kulit bia tapi sekarang perempuan beli babi di pasar dengan uang. Bukan perempuan mengambil alih pekerjaan tapi kerja laki- laki sudah beruba maka segala pekerjaan di tanggung oleh perempuan. Laki- laki harus melihat, merubah, merefleksikan dalam berbicara, berpikir, bertindak, dan perlakuan kita terhadap perempuan.
Perlakuan suami terhadap perempuan kurang memberikan penghargaan dan kelegaan bagi mereka. Menghargai mereka dengan hal- hal sederhana sebagai bentuk terima kasih atas jasa baik. Hal- hal yang mereka juga merasa lega. Karena tidak ada perhargaan dan penekanan dari laki- laki, perempuan depresi terus menerus atas beban kerja yang berat. Kalau kita menghargai mereka dengan pujian dan syukur yang lahir dari hati yang tulus, maka mereka merasa pikul beban kerja yang berat tapi di hargai oleh laki- laki.
Sedangkan laki- laki harus menjadi bahan refleksi, bagaimana peran kita sebab perempuan berbuat lebih banyak hanya bagi suami dan anak- anak.
Memberikan pujian pada perempuan lewat doa sebelum makan atau tidur bahwa ibu kerja berat berikan kekuatan atau kesehatan baginya. Dengan demikian perempuan merasa di hargai, di perhatikan, oleh keluarga, maka dia melihat pekerjaan bukan merupakan tekanan depresi dan beban tapi merasa tanggungannya yang harus di-jalankan denga cinta dan tulus.
Atau penhargaan diberikan lewat hari ulang tahunnya, diajak refresing keluar/ ajak jalan-jalan bersama. Kita memakai tenaganya tapi kita tidak menghargainya untuk istirahat. Ibarat mobil, kita pakai terus, tapi dia juga pernah istirahat. Agar tidak cepat rusak. Apalagi manusia perlu ada waktu istirahat bukan kerja terus – menerus sepanjang hari. Laki- laki terlalu menuntut lebih dari kemampuan perempuan. Ketika pulang dalam kelelahan terakhir suami suruh melayani dalam keadaan lesu.
Tanggung jawab perempuan memikul beban berat sekalipun tidak smua perempuan. Sedangkan laki-laki menanti yang tersedia. Sebagian kecil perempuan lain main judi, pelacur tapi sebagian besar (99%) perempuan itu menanggung beban berat.


Perhatian dan penghargaan kepada perempuan perlu ada dan diwujudnyatakan melalui ucapan terima kasih (doa) dan berikan kans untuk melepaskan dari beban hidup yang menekan agar ada waktu untuk jeda, urai Piet waine.
Suatu penyebab adanya beban kerja berat bagi perempuan itu tingginya mas kawin yang di bayar, tapi hal itu tergantung dari sikap dan perilaku laki- laki melihat dan memposisikan perempuan. Pandangan laki- laki terhadap perempuan duludan sekarang sudah berubah sebab tingkat Pendidikan tinggi maka mas kawin pun meningkat tinggi. Tidak semua perempuan ditaruh mas kawin tinggi, tapi tergantung kita (laki- laki ) bagaiman penempatkan pada posisinya tanpa menekan ruang gerak mereka.
“ Peran perempuan dilihat berat sebelah hanya karena orang mee masuk pada masa transisi, kebiasaan sebelumnya dan situasi sekarang. Orang sekarang mulai beradaptasi. Pemaknaan peran perempuan sekarang dan dulu, dunia tradisional dan dunia modern penghargaan terhadap perempuan sudah ada sejak dulu. Hanya laki- laki dewasa ini salah memaknai perempuan dulu dan sekarang” kata Paskalis Butu, kepada suara perempuan.
Lebih jelas piter Muabuay, S.Sos menegaskan, peran secara tradisional laki dan perempuan di katakana seimbang. Laki-laki dan perempuan memiliki tanggung yang sama beratnya. Laki- laki bertanggung jawab terhadap urusan politik, ( membuat negosiasi dengan musuh, mengelar perdamaian ), menjaga keamanan, mengurus upacara adat, menyiapkan lahan baru, mencari kayu bakar, berburu, berdagang. Sedangkan perempuan bertanggung jawab terhadap urusan pencarian makan di kebun, mengurus anak- anak dan pekerjaan rumah tangga serta membantu laki- laki dalam menyiapkan upacara- upacara adat.
Sesudah adanya akulturasi ( kontak budaya ) dengan dunia luar, peran- peran tersebut berubah. Sebagaian besar peran laki- laki berkurang/ hilang, seperti menjaga keamanan, mengurus upacara adat, tugas membuka lahan baru yang di persingkat/ dipermudah dengan adanya teknologi baru yang diperkenalkan. Maka saat ini laki- laki memilki banyak waktu luang.
Lain halnya dengan perempuan dengan adanya perubahan ini peran tradisional perempuan masih tetap, bahkan di tambah dengan peran- peran baru sebagai akibat meningkatnya kebutuhan hidup seperti tanggung jawab mencari uang, mengikuti kegiatan- kegiatan sosial dan sebagainya.
Dengan demikian, di satu sisi laki- laki bertangan kosong karena perannya berkurang/ hilang di sisi lain, perempuan memiliki beban kerja yang cukup berat. Bahkan dapat di katakana laki- laki berada pada kondisi yang sedang kebinggungan untuk mengisi kekosongan peran tersebut. Lebih tegas di katakana bahwa saat ini telah terjadi ketimpangan atau ketidak adilan dalam pembagian peran antara laki- laki dan perempuan yang berada pada posisi yang berbeban berat urainya.


“ Pola pikir orang lain (pandangan orang luar) dan pola pikir seorang perempuan gunung berbeda. Perempuan dia berpikir bahwa kalau saya tidak kerja mau makan apa ?. Mereka tidak akan mengeluh atau berpikir bahwa saya kerja banyak ujar Andreas G, S.Sos. Kalau saya tidak kerja kebun, ternak babi, hidup mengambang tidak ada pegangan. Orang gunung hidup dari kenyataan dan pengalaman hidup bukan dari khayalan. Kebun, ternak babi, rumah dan noken menunjukkan jati diri orang gunung. Kalau tidak punya itu mereka mengatakan kamu bukan manusia gunung.
Bagi perempuan gunung pekerjaan bukan diberikan oleh laki-laki tapi justru dia menambah pekerjaan demi menunjukan jati diri (identitas) sebagai perempuan. Mereka tidak pernah menuntut sesuatu dari suaminya atau kerabatnya. Tidak merasa bahwa dirinya menanggung beban yang berat. Perasaan pekerjaan beban berat muncul ketika ia sedang mengalami krisis (melahirkan, hamil, sakit) selama masih mampu melakukan pekerjaan ia mengerjakan tanpa perasaan apapun, tegas Andi.

emanuel goo

Batas Hak Ulayat Tanah Adat Tidak Identik Batas Wilayah Administrasi Pemerintahan

Oleh : Alexander Edowai, S.IP


Tanah, hutan, air dan segala isinya baik makluk hidup maupun benda mati yang ada di dalam dan di atas tanah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dan merupakan sumber kehidupan manusia. Dalam pandangan masyarakat adat, tanah dan segala isinya dipandang sebagai ibu/mama atau dengan penamaan lain, yang selalu memelihara dan memberi hidup dan kehidupan manusia sebagai insan-insan ciptaan Tuhan Allah sendiri.

Menyadari arti penting dan fungsi strategis dari tanah dan segala isinya bagi kepentingan hidup manusia dalam hal ini termasuk orang pribumi Papua, maka tanah dimaksud selalu dijaga/dipelihara dan dilestarikan oleh para tuan tanah selaku pemilik hak ulayat dari sejak dahulu kala manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa sampai dengan sekarang bahkan selanjutnya pula secara regenerasi/turun temurun.
Berkaitan dengan hal dimaksud, maka tanah masyarakat adat di bumi Papua tidak bisa diganggu gugat oleh siapa atau pihak manapun, kecuali para tuan tanah mengijinkan atau menyerahkan kepada pihak lain untuk memakai atau menggunakannya.
Pemerintah menyadari bahwa hak ulayat tanah masyarakat adat Papua merupakan bagian yang esensial dan perlu ditangani secara serius, sehingga melalui kebijakan Pemerintah dengan jelas dan tegas telah diatur/ditetapkan dalam UU-RI Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi Papua, sebagai jaminan hukum atas hak tanah bagi orang asli Papua yang nantinya secara eksplisit akan dijabarkan dan ditetapkan lagi dengan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Papua.
Namun perlu kita memahami bersama bahwa masalah batas hak ulayat tanah masyarakat adat bukan merupakan batas wilayah administrasi Pemerintahan, karena pengertian batas hak ulayat masyarakat adat tidak identik dengan batas wilayah administrasi Pemerintahan.
Batas hak ulayat tanah masyarakat adat adalah batas suatu wilayah tanah, hutan, air dan segala isinya yang telah dimiliki oleh masyarakat hukum adat tertentu secara turun temurun atas suatu wilayah yang merupakan lingkungan hidup para warganya. Sedangkan batas wilayah administrasi Pemerintahan adalah batas pelayanan Pemerintah kepada masyarakat dalam rangka pembinaan kemasyarakatan dan pelaksanaan pembangunan di dalam wilayahnya, yang secara formal ditetapkan dengan Peraturan Perundang-undangan dan telah mendapat pengakuan dari Negara secara Nasional maupun Internasional.
Contoh riil batas hak ulayat tanah masyarakat adat antar Negara, Masyarakat hukum adat PNG dan NKRI yang berdomisili di daerah perbatasan yakni Vanimo dan Skow. Masyarakat Indonesia di Skow-Indonsia yang mempunyai hak ulayat tanah di Vanimo-PNG dan sekitarnya diijinkan untuk berkebun, begitupun sebaliknya masyarakat Vanimo-PNG yang mempunyai hak ulayat tanah di Skow-Indonesia dan sekitarnya diperbolehkan/diijinkan untuk melakukan aktivitas perekonomian yang sama seperti tersebut di atas.
Terkait dengan batas wilayah administrasi Pemerintahan Kabupaten Dogiyai yang baru saja dimekarkan dari Kabupaten Induk Nabire, telah ditetapkan secara resmi batas wilayahnya dengan sebuah Undan-Undang Pemekaran/Pembentukan Kabupaten Dogiyai yang meliputi 10 (sepuluh) wilayah Distrik Yakni Distrik Kamu, Kamu Utara, Kamu Selatan, Kamu Barat, Kamu Timur, Mapia, Mapia Barat, Mapia Tengah, Sukikai dan Sukikai Selatan.
Hal dimaksud tidak mempengaruhi batas hak ulayat tanah masyarakat adat dan hubungan social budaya lainnya yang terdapat di daerah perbatasan. Jika masyarakat yang mempunyai hak ulayat tanah di Kabupaten Nabire dan Kabupaten lainnya yang berbatasan langsung dengan Kabupaten baru Dogiyai seperti Kab. Paniai, Mimika, kaimana dan sebaliknya di daerah perbatasan, maka dalam hal ini beberapa Pemerintah kabupaten yang berbatasan dimaksud tidak akan campur tangan dalam urusan hak ulayat tanah dan segala isinya.
Artinya bahwa masyarakat adat boleh saja melakukan aktivitas perekonomian di luar batas wilayah administrasi pemerintahan kabupaten Dogiyai, karena memilikih hak ulayat tanah adat yang luas dan melewati batas wilayah administrasi Pemerintah Kabupaten lainnya, dan sebaliknya masyarakat adat yang mempunyai hak ulayat tanah yang luas dan masuk di wilayah Kabupaten Dogiyai tidak haram juga bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas perekonomiannya. kecuali dalam hal pengambilan Sumber Daya Alam (SDA) dalam batas wilayah administrasi Pemerintahan tertentu, sangat memerlukan izin dari Pemerintah kabupaten yang bersangkutan dan masyarakat setempat yang mempunyai hak ulayat tanah, hutan, air dan segala isinya.
Berkenaan dengan aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat Mapia lama yang tergabung dalam lembaga SIMAPITOWA beberapa waktu lalu kepada DPRD bahwa tidak mau bergabung dengan Kabupaten baru Dogiyai yang merupakan pemekaran dari Kabupaten induk Nabire, dengan alasan bahwa sebagian besar hak ulayat tanah masyarakat adat berada di wilayah Kabupaten Nabire.
Kalau memang benar-benar aspirasi masyarakat yang disampaikan itu hanya menyangkut batas hak ulayat tanah masyarakat adat dan tidak ada muatan kepentingan segelintir orang dibalik aspirasi dimaksud, maka hal-hal yang dijelaskan tersebut diatas walaupun inparsial menjadi bahan renungan kita, bahwa batas hak ulayat tanah masyarakat adat agak berbeda dan tidak ada pengaruhnya dengan batas wilayah administrasi Pemerintah kecuali dalam hal-hal tertentu.
Yang jelas Undang-Undang pemekaran Kabupaten baru Dogiyai secara tersirat telah terbentuk pada tanggal 6 Desember 2007, namun kini telah menjadi sebuah Undang-Undang pada tanggal 4 Januari 2008 dengan Nomor UU 08 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Dogiyai Di Wilayah Propinsi Papua. dimana didalamnya pasti saja terdapat pasal dan ayat yang mengatur tentang batas wilayah administrasi Pemerintahan Kabupaten Dogiyai yang mencakup 10 (sepuluh) wilayah Distrik tersebut di atas.
Dengan demikian, Kalau ada pihak-pihak yang tidak setuju/menerima kenyataan yang terjadi dengan alasan batas hak ulayat tanah masyarakat adat, maka tidak dilarang untuk berpindah ke kabupaten induk Nabire atau ke Kabupaten lain yang dinginkan, tetapi batas wilayah administrasi Pemerintah tetap mengacu pada Undang-Undang Pemekaran Kabupaten Dogiyai.
Untuk itu semua pihak dengan berlapang dada harus menerima itu dan sebelum terlambat semua komponen masyarakat Dogiyai bergandengan tangan memikirkan bagaimana membangun Kabupaten Dogiyai ke depan di berbagai aspek kehidupan masyarakat, agar tidak terjadi hambatan dalam pelaksanaan pembangunan selanjutnya, karena dinilai semua aktivitas penyelenggaran Pemerintahan, Pembinaan kemasyarakatan dan pelaksanaan pembangunan akan dimulai dari Nol dan menjadi tolak ukur pembangunan selanjutnya di Kabupaten Dogiyai.
Pembangunan diberbagai aspek baik fisik maupun non fisik yang akan dilakukan oleh Pemerintah kabupaten Dogiyai, tentunya di atas hak ulayat tanah masyarakat adat Mapia dan Kamu, sehingga segala aspirasi berupa keinginan dan tuntutan dari masyarakat yang berkaitan dengan hak ulayat tanah dan segala isinya pasti akan diperhatikan secara serius oleh Pemerintah setempat secara bertahap.


Kepala Distrik Sukikai

Senin, 14 Januari 2008

Koalisi SIMAPITOWA Menolak Bergabung Kabupaten Dogiyai

Sejak pengesahan kabupaten baru Dogiyai pada 06 desember lalu pemerintah kabupaten nabire melakukan sosialisasi lahirnya kabupaten dogiyai , terakhir tanggal 21 desenmber bupati Drs. A.P youw sosialisasi di distrik kamuu, kamuu utara . Kendati demikian 8 delapan distrik yang direncanakan masuk dalam kabupaten baru dogiyai menolak bergabung dan akan tetap bergabung dengan kabupaten induk Nabire .
Maka masyarakat yang tergabung dalam koalisi masyarakat dan mahasiswa SIMAPITOWA ( distrik Siriwo, Mapia, Piyaiye, Topo, Wanggar) menggelar aksi demo penolakan bergabung dengan kabupaten baru sebab dinilai pemekaran bagian dari kepentingan elite politis dalam mengejar jabatan dan harta benda .
Aksi demo Koalisi SIMAPITOWA berlangsung di kantor DPRD Nabire rabu
09 januari lalu . Sejumlah poster, panflet dan spanduk penolakan bergabung diusung dalam aksi tersebut , “ masyarakat SIMAPITOWA tidak dapat dipisahkan darikabupaten nabire oleh siapapun ,dimanapun, karena nabire dan sSIMAPITOWA adalah satu bagian yang tidak terpisahkan “ . belum taukah Nabire dan Mapia adalah satu sejak generasi lalu . pada poster lain terpampang , 10 tahun anda sudah sial, jadi saya masih primitive. “ Boleh pemekaran asal ingat tapal batas karena itu karena itu bukan milik leluhur pejabat “ . atau “ masyarakat SIMAPITOWA memiliki hak tertinggi untuk memiliki dan menentukan .” Kami tinggal diam dan yang mau dipisahkan adalah yang berjuang pemekaran kabupaten baru dogiyai “ . Dalam aksi demo dihadirkan pula sejumlah tokoh masyarakat yang intinya menolak bergabung dengan kabupaten baru .

Matius Butu yang memimpin aksi mengatakan wilayah distrik Mapia wanggar adalah satu budaya ,nenek yang sama maka tidak dapatkan dipisahkan oleh system administrasi pemerintahan . karena itu kami beberapa distrik ,Siriwo,Mapia, Mapia Barat, Sukikai, sukikai selatan, Topo, wanggar tetap akan bergabung dengan kabuapten induk . bukan dengan kabupaten Dogiyai . entah hendak kasih nama kabupaten lembah hijau atau apapun silahkan tetapi pada dasarnya koalisi masyarakat dan mahasiswa SIMAPITOWA tetap akan bergabung dengan kabupaten induk . untuk sudah banyak kali kami lakukan aksi untuk mengkauoter simapitowa digabungkan ke kabupaten baru . pada tanggal 23 desember kami lakukan di kantor distrik Mapia- Bomomani ( 200KM dari kota nabire ), kemudian hari ini kami seluruh massa simapitowa bawa turun semua spanduk, poster , panflet yang digunakan di bomomani untuk lakukan demo di kota . Dan seluruh elemen simapitowa telah menyepakati tetap akan bergabung dengan kabupaten induk . sebab pemekaran ini diperjuangkan dalam posisi pro kontra maka kami masyarakat simapitowa tidak mau terkecoh dalam kepentingan dua pihak ini , juga tidak mau menjadi korban pemekaran . diketahui juga bahwa pemekaran baik hanya saja dalam proses pembangunan masyarakat akan jadi korban pembangunan . hal itu kami belajar dari pengalaman kabupaten lain hasil pemekaran , disana masyarakat selalu jadi korban pembangunan . semua hak ulayat simapitowa yang kaya raya sumber daya alam ini tidak mau digadaikan kepada kabupaten baru. Masyarakat akan tersingkirkan, sementara kekayaan alam masyarakat akan terkuras . Untuk itu sebelum hadir kabupaten baru ini tapal batas segera diperdakan , kemudian nama kabupaten dogiyai segera diganti deengan nama lain sebab sebagian besar daerah dogiyai milik ulayat masyarakat simapitowa. Sebelum SK pemekaran kabvupaten baru keluar segera dilakukan hal itu, sebab kami masyarakat simapitowa tetap tidak akan gabung dengan kabupaten baru “ urai butu .

Sedangkan dalam pernyataan sikap masyarakat SIMAPITOWA mengatakan selurug elemen masyarakat mulai dari mapia, mapia barat, sukikaii, sukikai selatan , Topo, sampai wanggar tetap akan bergabung dengan kabupaten induk kabupaten nabire . Kemudian masyarakat SIMAPITOWA tidak akan menyerahkan seluruh kekayaan untuk kepentingan kabupaten Lembah Hijau .



Sementara itu Ketua DPRD Nabire Daniel Buto mengatakan aspirasi warga SIMAPIOWA untuk tidak bergabung dengan kabupaten baru Dogiyai telah lama disampaikan . pada bulan desember ketika DPRD melakukan kunjungan kerja di distrikpun ada pro kontra di beberapa distrik yang masuk dalam kabupaten dogiyai . Di Bomomani warga SIMAPITOWA telah menyampaikan aspirasi saat kunjungi menjaring aspirasi masyarakat . sementara dua distrik yakni distrik Kamuu, dan kamuu utara mendesak kabupaten dogiyai dibentuk. Mapia menolak pemekaran dan tetap di Kabupaten Nabire . Anggota DPRD tidak berpihak pada situasi pro kontra ini , sehingga ambil sikap dalam prose ini tidak terlibat dalam proses pemekaran ini . sampai saat ini TIM pemekaran kabupaten belum mensosialisasikan tapal batas dan kedudukan ibukota . padahal dalam proses perjuangan kabupaten dogiyai telah diusulkan . UU Kabupaten dogiyai sedang disidang paripurnakan di DPR RI . Masyarakat Mapia 7 distrik menghendaki pada kabupaten induk . sampai hhari ini DPRD Nabire belum tanggapi oleh DPRD. Telah menerima aspirasi tersebut tapi belum dibahas , sebab ada pro dan kontra di masyarakat . sampai hari ini aparatur pemerintah
( eksekutif dan legislative)dan tim pemekaran belum bicara sama-sama .
Pemekaran UU sudah dibicarakan DPRRI tapi belum tahu kapan ditetapkan masalah tapal batas . jangankan kabupaten baru , kabuopaten baru saja hingga saaat ini belum jelas tapal antara nabire dengan kabupaten Timika, nabire –kabnpaten waropen, Nabire – kabupaten Kaimana . semua tapal batas masih bermasalah . distrik sukikai selatan belum bias kerja sebab ada masalah perbatasan dengan kamoro . “ aspirasi untuk tidak bergabung dengan kabupaten baru dogiyai sudah masuk kesekian kalinya namun hingga saat ini belum dibahas anatara esksekutif, legislative dan tim pemekaran . maka dalam waktu dekat akan dibahas “ janji Daniel buto . emanuel goo nabire

Aksi Pedagang Pribumi di Nabire



Kaum Perempuan selalu menjadi korban dari semua pihak , baik korban kekerasan fisik, kekerasan seksual maupun korban dari sebuah kebijakan Pemerintah maupun swasta.
Akibat sebuah kebijakan Pemerintah melalui Dinas trantib untuk menertibkan 13 obyek, termasuk ditertibkan pedagang sayur pasar sore disepanjang trotoar depan taman gizi kelurahan oyehe , membuat pedagang yang rata kaum perempuan ini bingung hendak dibawa kemana jualannya sebab biaya transportasi dari rumah ke pasar sentral kalibobo cukup tinggi ketimbang hasil jualan yang diperolehnya .
Guna menjawab kebingungan sekitar ratusan perempuan mendatangi kantor DPR (25 Agustus 2005) untuk meminta kejelasan dimana mereka berjualan , sebab diantara mereka ada yang tidak mendapat tempat jualan di pasar sentral kalibobo .
“Pasar sore di Oyehe ditutup, sekarang kami mau jualan dimana, pergi jualan di pasar Kalibobo tapi saya keluarkan ongkos taksi Rp.10.000 hanya untuk mendapatkan uang Rp.1000 lalu saya rugi diatas rugi malahan hasil jualan juga habis bayar mas- mas ojek” kata mama Gerda Yigwa disela – sela aksi demo mama – mama penjual sayur belum lama ini di Kantor DPRD.
Hasil kebun saya buang terus sebab pasar ditutup, kami mau pergi jual di Kalibobo tapi tidak ada pembeli sebab penjual sayur pakai motor mendatangi dari rumah kerumah, maka jualan disana tidak ada pembeli . jangankan pembeli angin pun tidak bisa lewat, urai jigwa.
Kami datang ke sini agar DPR untuk melihat kehidupan yang diterlantarkan Pemerintah dan meminta waktu 2 jam saja (antara 16.00 – 18.00 WP) untuk berjualan di Oyehe sekedar mencari uang taksi buat anak – anak kami. Jualan di pasar Kalibobo tapi tidak ada pembeli , Bupati pun kami kasih tahu ( beritahu ) jualan di pasar sore Oyehe tapi tidak pernah lihat. Kalau kami jualan di pasar Kalibobo harus bayar meja bahkan ada yang sewa tempat jualan sama orang pendatang, kata ibu marta di depan ibu lainnya.
Usai mengeluarkan unek - unek dari kaum ini , Ketua DPRD Nabire Drs. Daniel Butu menemui ibu – ibu. Seorang perempuan separuh baya mengeluarkan tulisan diatas sepenggal Karton Air Mineral Aqua . “ Kami minta pasar (jualan :red ) 2 jam (16.00 – 18.00 Wp) “ .
“ Daerah Nabire dalam kondisi penertiban salah satunya penertiban pasar. Akan tetapi untuk sementara menunggu pembagian pasar Kalibobo saya kasih waktu 2 jam untuk berjualan di pasar sore Oyehe. Setelah semua beres baru kita tutup untuk tidak jualan lagi, kata Drs.Daniel Butu Ketua DPRD Nabire di depan mama – mama yang berjubel di halaman Kantor DPR.
Mendengar jawaban dan penjelasan dari Ketua DPRD mama – mama meninggalkan Kantor DPRD. Satu hal yang aneh dari aksi demo pedagang sayur ( ibu – ibu ) ini bahwa mereka diterima di garasi mobil anggota dewan, sementara pedagang pasar Kalibobo yang notabenenya laki – laki di terima di ruang pertemuan DPRD Nabire.
” Sesuai surat Perintah Bupati Drs. A.P.Youw tertanggal 11 Juli 2005 Satpol PP ( Satuan Polisi Pamong Praja ) diserahi tugas menertibkan 13 obyek. Penertiban terhadap 13 objek penertiban ini akan di lakukan hingga bulan Desember 2005. Ketiga belas objek yang akan ditertibkan beberapa diantaranya penertiban pasar, penertiban rumah Dinas, Kendaraan Dinas, Satpol PP BBM, penertiban PNS, Satpol PP lainnya “ ujar kepala satuan Polisi Pamong Praja Kab. Nabire Alex z.Kareni S.Sos, ditemui suara perempuan disela – sela aksi demo pedagang sayur di halaman Kantor DPR Nabire.
Agenda penertiban pasar di Nabire dari Satpol sudah dijalankan dan sedang dalam penertiban tempat jualan yang ada dibelakang pertokoan Oyehe. Sekarang sudah tidak ada lagi penjual yang melakukan aktivitas didaerah itu. Pasar sore di trotoar Oyehe juga sama. Para pedagang sebelumnya mangkal diareal itu kini telah dipindahkan untuk beraktivitas dipasar sentral Kalibobo.
Penertiban pasar masih dilakukan . Dalam waktu dekat akan dilakukan penanganan pasar sore KPR Siriwini. Kami akan turun bersama instansi terkait untuk memberikan informasi kepada para pedagang, dilanjutkan pemindahan pasar ke pasar Kalibobo. Untuk agenda ini kami akan bersama dengan pihak Distrik sebagai pihak yang memiliki Wilayah di Back Up aparat keamanan juga melibatkan instansi terkait, urai kareni.
Untuk mama – mama yang jualan ditrotoar Oyehe, pasar sore KPR Siriwini semua jualan di pasar Sentral Kalibobo, 2 los untuk mereka yang dari kedua pasar itu, pasar Kalibobo harus ditertibkan, mereka yang jualan di badan jalan harus jualan dalam pasar sehingga aktivitas pasar sentral berjalan baik, kata Alex. emanuel goo

Akibat Kenaikan Harga BBM Di Nabire

Awal tahun ini pemerintah telah menaikan harga bahan bakar minyak. Belum cukup dengan kenaikan itu, kini pemerintah sedang ancang-ancang menaikan harga BBM lagi pada bulan oktober 2005 mendatang . Bersamaan dengan itu harga sembako jelas akan ikut melambung harganya. Di Nabire, minyak tanah saja sulit mendapatkan, sekalipun ada yang di jual tapi mahal hingga mencapai 5.000 per liter.
Berikut tanggapan masyarakat respon masyarakat Nabire atas rencana kenaikan BBM ( Bahan Bakar Minyak ), yang diliput koresporenden Suara Perempuan Nabire

“ Mace Yawan membolak-balik gorengan pisang di wajang. Belum matang benar tiba-tiba kompor mati. Cek sana sini minyak habis. Tengok jerigen di pingir kompor jua sudah tidak ada. Pergi di kios pengecerpun terpampang tulisan “ Minyak tanah habis” juga. Akhirnya macemace tidak jadi sarapan buat anak-anaknya yang pergi ke sekolah”. Demikianlah salah satu ibu dari seribu ibu-ibu yang merasakan kelangkaan sekaligus rencana pemerintah menaikan harga BBMpada bulan oktober ini.

“ Dorang lihat kitorangkah trada. Kitong sudah sulit dapat minyak saja, dorang (pemerintah) sudah mau kaseh naik harga BBM lagi”, kesal ibu Thresia ketika meyaksikan tayangan TV mengenai rencana kenaikan BBM.

“ Kita Ibu Rumah Tangga Sudah Menderita. Harga BBM saja sudah mahal lalu sekarang kita mau dikemanakan. Jangankan kita ibu rumah tangga yang tidak kerja, mereka yang sudah Pegawai Negeri saja sangat menderita untuk bayar utanglah, bayar rekening lampu, biaya anak sekolah dan banyak kebutuhan lainnya. Apalagi kami yang hanya mengharap gaji dari bapak atau mereka yang hidup dari hasil kebun, atau nelayan sangat menderita menanggung beban pemerintah, sebab apa yang saya rasakan di dapur ini, ibu-ibu lain juga sedang mengalami hal yang sama. Dampak kenaikan BBM sudah dipikirkan semua oleh pemerintah termasuk subsidi BBM kepada masyarakat tapi dalam penyaluran subsidi acap kali di salah gunakan oleh pejabat-pejabat sehingga tidak sampai ke tangan rakyat kecil yang seharusnya hak mereka” kata Nelke H.R. Ayomi pada suara perempuan belum lama ini.

“ Bila BBM naik berarti hasil pertanianpun harus distandarkan atau disesuaikan dengan harga BBM dan Sembako lainnya, sebab mata pencarian kami sebagai petani tidak menentu. Untuk saat ini harga yang paling murah di dunia adalah hasil pertanian di pasar. Tidak hanya kenaikan BBM lantas petani jadi korban pemerintah. BBM naik, harga barang semua naik sementara hasil pertanian tetap bahkan paling murah di beli harganya. BBM naik tapi harga barang di toko ditekan dan disesuainkan dengan kemampuan pendapatan masyarakat, sebab mata pencarian kami tidak menentu” kata Kasiyanto warga Distrik Wanggar. Harga BBM harus disesuaikan menurut kelas masyarakat, harga BBM kelas bawa diberikan harga di bawa standar sedangkan pengusaha dan pejabat sesuai harga yang berlaku. BBM dapat dinaikan tapi harga barang perlu dikontrol oleh pemerintah agar masyarakat tidak mencekik leher, tegas Kasiyanto.

“ Kembali saja ke kayu bakar” kata Susana Sarak. Kita lihat masyarakat kecil, untuk membeli kebutuhan saja sukar untuk memenuhinya, lalu dibebani dengan kenaikan harga BBM. Bila BBM naik maka harga semua barangpun ikut melonjak.Dulu saya bongkar tungku api tapi sekarang sudah pasang lagi sebab kita susuh dapat minyak tanah apalagi ada kenaikan harga BBM. Pemerintah hendak menaikan harga BBM, kebijakan itu untuk kepentingan siapa ? Kalau kepentingan pemerintah yang akhirnya akan untuk dikorupsi dan bukan kesejahteraan rakyat lebih baik ditunda dulu sebab beberapa bulan lalu sudah naikan harga BBM urai Susana kepada Suara Perempuan.

“ Untuk masyarakat biasa di Papua tidak terasa pengaruhnya tapi yang sangat merasakan adalah pengusaha-pengusaha yang lebih mengantung pada BBM maka akan berimbas pada meningkatnya biaya produksi, akhirnya harga barang di pasaran ikut melejit. Tapi terakhir turun pada masyarakat yang mengalaminya seperti ibu-ibu di dapur itupun bagi yang berada di kota “ kata Anton Agapa.




“ Tujuan pemerintah menaikan harga BBM itu baik dan sudah memikirkan jauh ke depan demi kesejahteraan bagi rakyat. Namun naikan BBM dalam setahun dua kali semestinya tak perlu terjadi sebab tidak semua orang kaya. Saya dapat lia liter setiap kali pengecer memasok minyak tanah dalam waktu tidak menentu itu tidak cukup untuk masak air saja sebab kami selalu pakai Kompor dan itu membutuhkan minyak tanah. Kita mau cari kayu bakar tidak bisa sebab kami sudah tidak mampu alias tua, ujar Ibu Furimbe Mantan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan. Semestinya perlu ada jangka waktu lama baru lalu menaikan harga BBM. Kita masyarakat kecil mengomel, kritik dean sebagainya. Tapi tujuan pemerintah jauh lebih baik, tandasnya.

“ Harga BBM di Indonesia sangat murah maka pemerintah kewalahan dengan beban negara yang begitu berat, kata seorang karyawan Pertamina Nabire yang tak mau menyebutkan namanya. Misalnya pemerintah sudah subsidi minyak tanah dengan harga jual Rp. 1.000,- tapi ketika sampai di pengecer alias di pasaran sudah melonjak Rp. 5.000,-. Pertamina sudah memberikan subsidi atau kompensasi BBM sebelas milyar tapi untuk penyaluran dana subsidi kita kembalikan kepada pemerintah apakah mau mengelola dengan baik atau tidak. Kami pihak Pertamina tiap hari mengeluarkan minyak tanah kepada masyarakat tapi dalam penyaluran kadangkala tidak sampai pada masyarakat. Jadi kalau ada yang menyatakan di Nabire terjadi kelangkaan minyak itu hanya omomg kosong sebab tiap hari kami mengadakan dan menyalurkan kepada pengecer-pengecer yang sudah memiliki ijin. Sampai atau tidaknya BBM kepada konsumen tergantung bagaimana pengecer memasarkannya.


3manuel 9oo

Merry Yoweni, Perempuan Menggapai Via Informasi




Berbicara bebas, tegas, lantang, lugas tapi menyentuh sasaran pembicaraan , itulah khas seorang perempuan Papua yang bermukim di Nabire. Tak lain Dialah Merry Yoweni, SE Aktivis OXFAM Great Britain Nabire yang telah lama malang melintang di dunia LSM. Mulai dari penghubung Asisten Penghubung Internasional di kota Sorong hingga kini menjabat sebagai Officer Logistik Oxfam Nabire (Kepala Logistik Oxfam GB Nabire).
“ Perempuan Papua perlu mendapatkan kemudahan informasi yang baik agar meningkatkan kehidupan perempuan yang hidup dibawah keprihatinan dan buta akan informasi. Bangun perempuan dengan informasi yang baik supaya ada perubahan di dalam kehidupan diri, keluarga, dan masyarakat serta adanya daya saing dengan perempuan lain. Untuk dirinya mengaku berupaya mendirikan Center Informasi bagi kaumnya, urai perempuan kelahiran Nabire yang fasih bahasa Inggris, Prancis, Jerman hingga pernah Kuliah di Prancis selama 1,5 tahun. Saya memiliki tujuan hidup mau bersaing dengan perempuan lain yang keluaran Universitas Ternama. Dengan pengetahuan yang dimiliki Merry hendak berbuat sesuatu yang bermanfaat kaum perempuan lain, terang Yoweni mantan Kepala aksi melawan kelaparan di Waghete (1997 – 1998).
Karena itu harus merubah kebiasaan yang tidak pada zamannya lagi, kumpul cerita-cerita sambil makan pinang atau duduk menfitnah orang lain dengan menghabiskan waktu yang sebenarnya kita gunakan untuk bekerja, sebab era globalisasi, era kompetitif maka harus bekerja dan bersaing secara sehat agar menuju perempuan mandiri. Perempuan tidak bisa lagi santai dan dimanjakan oleh alam, sebab zaman cepat berubah dan menuntut kita untuk bekerja. Untuk itulah perempuan dipacu dan memacu diri agar berkompetitif, tegas Merry yang pernah jadi Operator radio sejak masih SMU, ini. Dirinya mengaku berupaya memacu diri dari SMU, dimana saya jadi Operator Radio. Di situ saya kerja part time (setengah hari) sekolah di SMU Negeri 752 sambil bekerja disebuah radio. Dari sanalah saya melakukan suatu upaya produktivitas, sambil sekolah sudah dapat menghasilkan uang sendiri.
“Posisi perempuan dalam kehidupan sehari-hari sangat memprihatinkan dan rentan dari pelecehan dari laki-laki baik pelecehan seksual, maupun pelecehan lainnya. Perempuan itu mampu hanya kurang adanya akses informasi, motivasi dan kemudahan demi menaikan tirasnya. Sangat memilukan pula ada perempuan mampu melakukan sesuatu lebih dari laki-laki tapi diatas kemampuan itu acapkali terjadi pelecehan terhadapnya, katanya mantan karyawan Freeport Indonesia departement enviroment ini. Selama laki-laki menganggap perempuan tidak sejajar sebagai mitranya tidak akan ada perubahan berarti maka perempuan sendirilah memunculkan motivasi guna melawan ketidak sejajaran sambil mencari kemudahan informasi edukatif demi menaikan tirasnya. Sepanjang tidak ada penghargaan terhadap perempuan sebagai mitra kerja bagi laki-laki, tak perlu muluk-muluk mengharapkan akan ada perubahan dan lebih lagi bahwa selama perempuan ditekan, dan tidak dilibatkan dalam berbagai usaha entah apapun usahanya tidak akan berhasil, sebab potensi perempuan yang raksasa ditidurkan oleh pria. Padahal kalau ditilik isi benak perempuan mampu memanage sesuatu dengan lebih baik ketimbang laki-laki,” papar Yoweni yang pernah dikontrak Pemda Nabire untuk mengajar bahasa Inggris kepada Kepala Dinas dan Kepala Bagian Kabupaten Nabire ini. Jika mengoptimalkan seluruh potensi perempuan, maka 70% dari keberhasilan orang Papua atas karya perempuan, sebab kontribusi perempuan cukup besar bagi semua pihak (laki-laki, keluarga, masyarakat, pemerintah). Hanya saja laki-laki menekan, hak-haknya dalam mengakses berbagai informasi yang sepatutnya diketahui oleh perempuan, tandas perempuan kelahiran 1977 yang pernah kuliah di Prancis ini.
Keterlibatan perempuan dalam kegiatan di Oxfam cukup besar, dimana disiapkan kader, diskusi dalam pembuatan bak air, jamban dan lainnya. Perempuan lebih dilibatkan sebab dalam penggunaan dan perawatan merekalah yang lebih tahu, urai alumni STIE Pionier Manado kepada suara perempuan pekan lalu.
Pengalaman adalah Guru terbaik bagi kita, belajar dari pengalaman masa lalu demi mencari hidup yang lebih baik dengan mengakses informasi yang efektif. Sebab dewasa ini sekalipun kuliah hingga perguruan tinggi dengan daya intelektual tinggi, tapi buta dengan informasi maka kita sudah ketinggalan jauh. Sekarang kita harus lompat dari ketertinggalan, sebab kita sudah jauh tertinggal, sementara kita masih di darat, orang lain sudah sampai di bulan. Karena itu kita harus lompat yang disuport dengan informasi yang baik, tandas mantan Guru Bidang Studi Bahasa Inggris SMU Advent Nabire ini.
Dirinya mengaku lebih cenderung kerja di LSM sebab tempat mengekspresikan kebebasan berbicara, bebas, kritis, lugas, maka lebih baik menekuni dunia LSM. Dari keterbatasan saya bisa memberikan sesuatu yang bernilai bagi perempuan lain.
Kontribusi perempuan dalam pembangunan ekonomi di daerah Nabire 60% seluruh level atau kategori ekonomi lemah, menengah. Perempuan sangat berperan dan memberikan kontribusi yang besar sebagai Pendapatan Asli Daerah. Jualan pinang mungkin menurut orang lain usaha kecil tapi itu dasar penghasilan ekonomi PAD meningkatkan income keluarga maupun daerah berangkat dari usaha kecil. Lebih bagusnya kita belajar dari negara Jepang. Mereka bekerja keras, gengsi urutan terakhir. Keluarga (anak dan isteri) dapat terjamin, bisa makan, sekolah, yang penting ada support dari keluarga. Keberpihakan pemerintah memberi porsi besar pada perempuan, hanya aplikasi di lapangan perempuan belum mengalami, melihat hasilnya, kata perempuan yang fasih bahasa Inggris dan Prancis ini.
Kami (Oxfam) sangat konsen dan memperhatikan soal gender. Tengok saja manager Oxfam di Inggris seorang perempuan, sedangkan dirinya mengaku direc line manage yakni kepala logistik Oxfam GB Nabire, sementara stafnya seluruhnya laki-laki. Di lapangan dalam melibatkan dan didominasi kaum perempuan sebab merekalah aset. Untuk itu tak perlu gengsi mencoba sesuatu, kita memperbaiki keluarga, mensupport sesuai dengan keterbatasan yang dimiliki hanya dengan kemampuan yang kita miliki, tandasnya.
Kita menghargai waktu dengan bekerja keras sesuai kemampuan dan profesi, bersyukur hidup dengan cara kerja keras saya dari SMP menghargai waktu itu sudah menghasilkan uang atau barang yang sudah menjadi produktif urai Yoweni.emanuel goo (nabire)


CURICULUM VITAE

Nama : Merry Yoweni
Lahir : Nabire, 20 Desember 1977
Nama Orang Tua Ayah : Kris Yoweni
Ibu : Ester Waiki

Pengalaman Kerja : 1. Operator Radio semasa SMA
2. Kepala Aksi Melawan Kelaparan (Aktion Contre la Fain Nabire)
3. Kerja sambil Kuliah di Prancis.
4. Assist. Penghubung Internasional di Sorong.
5. Pembuat Master Plan Tata Kota Sorong.
6. Karyawan PT. Freeport Indonesia Departement Of Enviroment.
7. Guru SMU Advent Bahasa Inggris.
8. Pengajar Kontrak Bahasa Inggris bagi Pemda Nabire.
9. (Kepala Logistik) Officer Logistik Oxfam GB Nabire.

Dimanakah Rumah Aman Bagi Anak ?


Alberth Nebore *)

Anak-anak kita, bukanlah milik kita. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang merindukan kehidupan sendiri. Melalui kita mereka lahir, namun bukan dari kita. Mereka ada pada kita, tapi bukanlah hak kita. Berikan mereka kasih sayang, tapi jangan pernah memberi bentuk-bentuk pikiran, sebab mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Kita berhak membuat rumah untuk tubuh, tapi bukan untuk jiwa mereka. Sebab, jiwa-jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan; yang tidak kita kunjungi, sekalipun hanya dalam mampi.” Demikianlah, antara lain, Kahlil Gibran penutur bijak pernah berucap tentang anak-anak dan tugas orang tua untuk membimbing mereka. Bimbingan orang tua pad aanak diibaratkan sebagai bentuk tuntutan seseorang yang melewati jembatan penuh resiko untuk tiba pada tujuan dengan selamat. Salah satu bentuk dari kepedulian orang tua adalah selalu berusaha menyediakan pilihan-pilihan yang terbaik untuk anak-anaknya. Pertanyaan kita, dimanakah rumah yang aman bagi anak, kalu dirumah sendiri anak lagi merasa aman? Rumah merupakan “Pusat pelatihan” hidup bagi anak untuk survive dalam kehidupan riil. Rumah bagaikan satu pusat studi perilaku, di mana ayah dan ibu merupakan direkturnya. Di rumahlah anak-anak mempeoleh haknya untuk bertumbuh secara maksimal, dasar-dasar etis diajarkan dan diletakkan di bawah bimbingan orang tua, sementara anak-anak bertumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa. Harapan akan rumoah sebagai tempat yang aman anak, semakin terasa jauh belakangan bentuk kekerasan terhadap anak berlangsung. Ada kisah memilukan Indah Saro, tiga tahun enam bulan dan Lintang Syaputra, 11 bulan, yang dibakar ibu kandung mereka pada Minggu, 1 Januari lalu di Serpong Tangerang. Nyawa Indah tak tertolong setelah usaha memulihkan luka bakarnya gagal. Indah Sari meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sedangkan Tia, bocah Sekolah Dasar di Jakarta Utara diseterika ayah kandungnya sendiri hingga menjerit-jeri. Kedua kaki bocah ini berair dan mengelupas. Belum lagi cerita menyedihkan yang menimpa Eka Suryana, 7 tahun yang dicekik ibu tirinya hingga tewas setelah diperkosa pamannya. Semua peritiwa ini dan kisah-kisah menyedihkan lainnya justru terjadi dalam rumah.
*** Kekerasan terhadap anak merupakan tambahan persoalan serius di Papua, setelah ancaman wabah HIH/AIDS yang sangat serius. Praktek-praktek kekerasan terhadap anak cenderunig meningkat dari waktu ke waktu. Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat, tahun 2004 terjadi 441 kasus kekerasan. Angka kekerasan tersebut meningkat tajam pada tahun 2005 menjadi 736 kasus. Kasus-kasus kekerasan tersebut berbentuk fisik, psikis dan seksual. Dalam wujud kekerasan psikis dan rohaniah, kita menemukan, misalnya, puluhan anak Papua yang terlibat dalam penggunaan zat adiktif, sperti lem Aibon. Sampai-sampai sudah menjadi santer julukan “Anak Aibion” di kalangan masyarakat. Atau anak-anak yang dipaksa atau terpaksa mengikuti orang tuanya dalam aktivitas ekonomi. Misalnya, berjualan di pasar, atau mendulang emas. Sebuah aktivitas yang sesungguhnya meresikokan kesehatan. Tingkat buta huruf di kalangan anak-anak juga memprihatinkan. Anak-anak kini terjepit antara mengikuti kemauan orang tua demi memenuhi nafkah keluarga dan menurut ajakan kelompok peduli kemanusiaan untuk masa depan yang lebih baik. Anak-anak juga – terutama putri – berada dalam tekanan adat dan budaya, antara menuruti harapan keluarga sebagai sumber harta kelak kawin dan desakan dunia mutakhir sebagai pribadi yang memiliki hak-hak untuk membuat pilihan. Sementara itu, struktur masyarakat dan lingkungan sekitar cenderung tidak memberikan tempat bagi anak-anak. Banyak anak yang terhambat dalam usaha mewujudkan bakat dan minatnya. Mereka sudah pasrah ketika beranjak remaja, kecewa, akibat seringnya terpinggirkan struktur masyarakat. Akhirnya, mereka tidak percaya diri, bertingkah aneh/menyimpang dari kebiasaan umum (social disorder). Di kota Timika – seperti yang penulis amati – rata-rata kelompok remaja yang tak sekolah atau putus sekolah, saban hari mangkal di Pasar Timika. Puluhan remaja ini, memahami keberadaan kota, Pasar Timika, barang-barang dan makanan yang diperdagangkan sebagai hutan atau pantai bersama potensinya : dusun sagu, ikan, udang, dan lain-lain. Potensi yang mudah dan selalu tersedia, gratis dan boleh dimanfaatkan kapan saja. “ Meramu “ barang-barang kekas (buangan) di pasar sudah menjadi praktek hidup sehari-hari. Hasilnya meramu itu dilego ke pembeli barang bekas. Hasilnya untuk membeli “ Lem Aica Aibon “ atau minuman keras. Kebiasaan dan ketergantungan pada Aica Aibon, tak muncul begitu saja. Ada sejumlah sebabnya. Fi0nce Kamoroko, salah satu anggota “ geng “ remaja jalanan menuturkan, mereka merasa telah disingkirkan masyarakat. “ Orang-orang seperti kami, mungkin tidak diperlukan lagi ,” ungkapnya. Alasan senada dikemukakan Yustinus Wayaru, Siprianus Kamteteyau atau Agus Minaweyau merasa. Meraka menganggap masyarakat telah berpaling dari mereka. Bagian dari komunitas yang terbuang, tak diacuhkan. Anak-anak bukanlah milik orang tua, karena itu paradigma bahwa anak merupakan objek yang dapat diperlakukan menurut kemauan orang dewasa perlu diubah, diperbaiki. “ Orang tua nomor pertama, anak kandung nomor kedua dan anak tiri nomor ketiga. “ Paradigma urutan nomor seperti itu adalah cara pandang yang salah, karena itu harus diperbaiki. Anak-anak memiliki harapan dan hak untruk hidup. Harapan orang dewasa (orang tua) agar kemauannya selalu diikuti anak-anak merupakan salah satu bentuk kekerasan. Apalagi kemauan itu diikuti dengan ancaman, hukuman dan pemukulan. Anak-anak perlu diberi kebebasan dalam batas-batas tertentu. Sudah pasti proses pembimbingan dan pengawasan tidak diluputkan disini. Kekesalan dan kemarahan terhadap anak sering juga dikarenakan persoalan-persoalan dalam kerja, seperti merosotnya kinerja di kantor, konflik dengan rekanan bisnis, mandeknya karier, ancaman PHK, pendapatan yang berkurang. Anak yang menyaksikan atau mengalami sendiri kekerasan dalam rumah tangga, paling mungkin mengulang hal serupa pada anaknya kelak, atau lingkungan sosialnya. Memutus mata rantai ini adalah dengan mengembangkan kasih sayang dan cinta dalam keluarga.

Menapaki Jejak Mama Dou Redempta Clara Tatogo


Kendatipun suami memangku jabatan sebagai Bupati sejak 1998 sampai 2006 lalu namun karya sang isterinya bak air tenang menghangutkan .Dimana sebagai orang harus mendampinginya namun Ia berkarya sesuai panggilan dan tugas yang diembannya abdi masyarakatnya. Selain sebagai ibu bagi keluarga juga sebagai pimpinan sebuah kantor Dinas . Tak semudah orang membayangkan peran ganda yang dipegang olehnya .Dan segala karya yang dilakukan itu patut diteladani,sebab ditengtah rutinitas keluarga kantornya juga Ia harus mengatur lagi urusan keluarga .SElain berbagai tugas dalam organisasi masyarakat sempat menjadi pucuk. Katakan Ketua Ikatan Bidan Indonesia Kabupaten Paniai,Ketua PKK Kabuapten Paniai, juga Ketua Gerakan Nasional Orang Tua Asuh dan berbagai organisasi masyarakat lainnya .
Mama Douw begitulah sebutan sapaan yang ditujukan sosok Perempuan Paniai ini . Tak lain Kalau bukan Redempta Clara Tatogo Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai.Kapan saja selalu siap melayani siapapun Itulah sikap tak pernah lepas darinya .
Redempta Clara Tatogo yang ditemui media ini kediamannnya di Nabire belum lama ini( 26/06) sempat menukil perjalanan hidupnya .Perempuan kesembilan dari tiga anak ini menamatkan VVS di Epouto tahun 1962 kemudian melanjutkan pendidikannya penjenjangan kesehatan 1967 di RSUP di Holandia pada waktu itu .Karena pengetahuannya dirasa kurang mapan Ia mengambil pendidikanperawat di kota yang sama pada tahun 1972. Setelah menamatkan Program perawat ia diangkat menjadi PNS di Drepartemen Kesehatan pada 1 januari 1968.Tahun 1973 kembali bertugas daerah asalnya tepat di puskemas Enarotali, tak berapa lama lagi kembali melanjutkan pendidikan di Holandia mengambil program kebidanan karena tak tega melihat tingginya angka kematian Ibu dan anak di Paniai pada waktu . Maka dengan satu tekat untuk menyelamatkan kaumnya dan anak baru lahir, Ia berhasil menyelesaikan pendidikan program kebidanan di RSUP Jayapura pada tahun 1976. dengan berbekal pengetahuan kebidanannya perempuan kesembilan dari Almarhum Micael Tatogo dan Yosepina Tekege ini kembali bertugas di Enarotali pada tahun 1978. Pada penghujung tahun 1978 31 desember mantan Penasehat Dharma Wanita Paniai ini menikah dengan sang Kekasihnya Januarius Douw ( mantan Bupati Paniai) . Kemudian tahunn 1979 ia pindah ke Jayapura ikut suami yang waktu itu kerja di kantor Gubernur Jayapura hingga tahun 1987. Selama itu pula ia memegang berbagai Jabatan kariernya, mulai dari kepala Puskesmas Abepura . Kepala Puskemas Abepura sejak 1982-1984 . Tahun 1980 sampai 1982 penanggung jawab poliklinik KB Di KIA Abepura .
Karena suaminya dipindahkan ke Wamena pada tahun 1987 maka mantan Ketua PAI( Persatuan Anggrek Indonesia) Kabupaten Paniai ini ikut berpindah tugas di Puskemas Wamena . Di Wamena pun Ia dipercayakan sebagai penanggung Jawab KIA Wamena Kota . Sampai tahun 1993 -1994 pindah ke kantor Dinas Kesehatan sebagai Kasubsi Ibu .Karena semua pekerjaannya dinilai mengerjakan dengan baik maka Ia dipercayakan memegang jabatan Kasubdin Kesga Kabupaten Jayawijaya selama 1994 -1996 .Kendatipun dirinya merasa belum rampung segala tugas dan tanggung jawabnya , tahun 1997 harus tinggalkan kota Wamena Karena suaminya mendapat SKCarateker di Kabupaten Paniai pada medio 1998 lalu . Maka Ia bekerja dinas yang ( Dinas Kesehatan) Kabupaten Paniai . Pada tahun 1997-hingga 2004 masih dipercayakan sebagai Kasubdin Kesehatan Keluarga . Lalu karena didukung pengalaman kerja dan prestasi kerja yang baik maka tahun 2004- 2007 Ia dipercayakan sebagai Kepala Dinas Kesehatan Paniai. Dalam masa jabatan itulah Ia berhasil mendaratkan program pembangunan Rumah Sakit ter termegah dan terbesar di Daerah Pedalaman Papua . “ Saya tak tega melihat kematian Ibu dan Anak berjalan terus juga taka mau pasien di bawa keluar dari daerah Paniai sebab memakan biaya cukup besar baik transportasi, akomodasi, serta biaya pengobatan . Maka ada baiknya kita bangun rumah sendiri . “urai perempuan tiga anak ini ( Alfred G Dou, Diana Maria Trix Dou,Almarhumah, Rafaael Kobida Dou, alm)
“ Dulu tidak terpikir akan kawin dengan Bapak juga akan mendapat jabatan seperti itu tetapi itulah keajaiban Tuhan yang terjadi atas diri saya . Itu pun atas dukungan suami, orangtua juga anak- anak saya dimana dalam mememberikan pelayanan kepada masyarakat selalu siap entah kapan , dimanapun dan dalam keadaan apapun selalu utamakan pekerjaan untuk melayani pasien . Pernah beberapa kali saya sedang mengikuti Ibadah di gereja namun karena ada seorang Ibu datang meminta untuk saudaranya sedang dalam kesulitan melahirkan maka saya tinggalkan ibadah lalu pergi memberikan bantuan klinis walaupun dalam keadaan tak siap apapun karena itu Panggilan Tuhan dan diberikan kepada saya dalam keadaan apapun saya siap melayani siapun dia , entah miskin atau kaya, petani atau pegawai , atau agamna apapun. Panggilan terima saya wujudkan dalam karya dan pelayanan kepada sesama maka Keajaiban Tuhan yang kini saya alami . Maka saya mengucap syukur kepada Tuhan juga kepada suami serta orang tua saya yang selalu memberikan petuah –pertuah yang sederhana namun penuh makna yang hingga kini saya masih pegang .Hasilnya petuah-petuah yang saya pegang kini diwujudkan dalam karya pelayanan . Saya sangat berbangga juga berterimakasih mendapat suami yang yang mengerti dan mengangkat mendorong dalam mengembang tugas dan karya perempuan terutama isterinya “ urai mantan Ketua Dekranasda Paniai ini.
Mantan Ketua WKRI Jayawijaya ini masih berpegang pada petuah orantuanya yang diapresiasikan dalanm kehidupannya maupun dalam memberikan pelayanan kepada sesama . Dari sekian petuah itu , satu diantaranya yang masih dalam ingatannya tak lupa bahwa “ kiyaimanatita bagemato kiyaimanatiyakaa”( Bergaul dengan dengan orang yang sudah dikenal baik sebab lebih dari itu akan membawa ke pada dunia yang hancur “ . Petuah ini disisipkan ayahnya ketika perempuan Uwebutu ini hendak meninggalkan Kampung halamannya untuk melanjutkan studynya di kota Holandia . Petuah tersembur lepas begitu saja dari orangtuanya yang sederhana namun baginya masih terngiang dalam benak hingga kini , dan dianggap melakukan pembatasan pada dirinya namun bagi perempuan tiga anak ini menilai punya makna tak ternilai sewgala harta benda. Memang dianggap membatasi diri pergaulan dengan orang lain namun kalau keluar dari kampung halaman harus jaga diri. Bisa bergaul tapi dengan siapa saya bergaul . Bebas bergaul tetapi harus dengan siapa . Dasar inilah yang menjadi poegangan untuk menata masa depannya dan bermodalkan petuah itulah kini Clara memangku jabatan Kepala Dinas Kesehatan Kabupten Paniai. Dalam memberikan pelayanan pun tak beda jauh dengan segala petuah patra orangtua yang masih digenggam seirama jabatan yang hingga kini dipeganggnya. Dalam melayanipun tidak ada pembedaan antara satui dengan lain baik agama, suku, jenis kelamin, juga status sosial .
Sejumlah ide dari mantan Wakil Ketua PKK Kabupaten Jayawijaya ini pun sempat mendapat tanggapan dari masyarakat , seperti ibadah Oikumene dari satu kantor ke kantor, atau kumpulan ibu-ibu dalam sulam menyulam, juga kerajinan tangan lain bagi perempuan juga laki-laki sempat diusung semasa menjabat sebagai Ketua PKK Kabupaten Paniai. Cikal bakal munculnya ibadah oikumene sebulan sekali adalah mama dou dimana dirinya ikut turun langsung mengikuti ibadah oukumene,
Lebih jauh mama Dou sempat menyenang kembali lika-liku kehidupannya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Suka-Duka pun sempat diteguk ditengah perjalanan hidupnya sebgai pelajaran bagi masa depan. Sejak jadi perawat sampai bidan tak ada pengalaman yang unik bagi dirinya, namun dua kasus dalam penanganan Ibu lahir yang sempat ditanganinya masih teringat hingga kini yang tak pernah dilupakannya dan masih tersimpan dalam benaknya . “ Sejak jadi perawat sampai bidan tidak mengalami tantangan dalam pelayanan baik selama perawat maupun waktu bidandalam menolong ibu bersalin .Hanya sewaktu tugas di Jayawijaya ,Ketika itu saya bersama keluarga hendak pergi ibadah namun karena seorang pria separuh baya bertandang ke rumah untuk meminta bantuan pertolongan darinya akan isterinya yang kesulitan dalam melahirkan anak yang ke 11. Dimana isterinya kesulitan melahirkan anak yang ke 11 di mana mengalami kesulitan melahirkan . Karena meminta bantuan darinya maka tidak jadi pergi ke gereja dan langsung ke rumah pria itu . Lalu ditemui seorang perempuan tengah berbaring di atas sebuah tikar koba-koba( tikar daun pandang ) tiada daya . Ternyata didapati seorang perempuan terbaring tak berdaya yang mengalami kesulitan melahirkan karena anak yang dikandungnya kembar . Segera perempuan ini membantu melahirkan perempuan terbaring tak berdaya ini . Dengan sentuhannya Ibu sudah melahirkan anak pertama , lalu hendak membantu anak kedua ari-ari duluanlah yang keluar, maka otomatis anak kedua yang keluar tak terselamatkan. Sementara anak yang keluar pertama dan ibunya selamat . Setelah anak pertama keluar lalu diserahkan kepada ayahnya, tidak sampai satu menit ari –ari keluar duluan sebelum anak kedua lahir maka anak tersebut tidak dapat terselamatkan .Menurut cacatabn yang ada uibu ini ada Riwayat reziko sebab selama melahirkan mengalami kematian anaknya sewaktu lahir .Namun itulah salah satu kegagalan saya dalam tugas di Wamena dalam membantu dalam melahirkan anak yang ke 11 , anak 1 lahir, ke 2 disuruh ngidam bukannya anak yang keluar tetapi ari-arilah yang keluar, sehingga nyawa anak itu tak dapat tertolong . Anak itu hembuskan napas terakhir setelah lahir dan berada ditangan saya. Anak yang pertama diselamatkan bdan anak kedua tak terselamatkan .Peristiwa kegagalan itu tidak akan lupa hingga ajal nanti . Selain kasus itu , suatu sore saya dengan keluarga duduk-duduk sembari bercengkerama di serambi rumah , tiba-tiba muncul seorang bocah sembari memberitahu bahwa ibunya telah melahirkan bayi namun ari-arinya belum keluar. Begitu mendengar itu, tanpa membawa apa-apa pergi menemui ibu tersebut dan benar adanya . Tak tunggu lama , dirinya memasukan tangannya tanpa menggunakan alat medis demi menyelamatkan nyawa ibu itu sebab dia terbaring muka pucat . Dengan uluran tangannya ,anak dan ibunya terselamatakan dari maut , Mama Dou memasukan tangannya tanpa menggunakkan alat medis apapun lalu keluarkan semua ari-ari yang terputus masuk dalam ibu tersebut . Akhirnya ibu dan anak tersebut terselamatkan . Inilah pengalaman pertama yang dialami dikampungnya sendiri Enarotali . Ada banyak kasus sempat ditangani namun kasus ini menjadi kegagalan saya dalam mennangani” kenang ketua Ikatan Bidan Indonesia Kabupaten Paniai ini.
Sebagai pelayan bagi sesama juga demi menyelamatkan nyawa manusia, kapan, dimana, dan dalam situasi apapun selalu siap melayani . Melayani bukan karena dikasih imbalan melainkan melihat itu sebagai panggilan dan talenta yang dititipkan kepada kita untuk diapresiasikan kepada sesama . Maka itu dalam memberikan pelayanan harus tanpa membeda-bedakan agama suku, status sosial, dan adat istiadat. Tugas dan pekerjaan apa pun yang lakukan titipan Allah yang mesti diteruskan kepada orang lain sebagai wujud pelayanan kasih kepada sesama . Sebagai petugas kesehatan bertugas seorang bidan , maka siap dipanggil kapan, dimanapun, dan dalam keadaan apapun untuk menjawab keluhan permohonan bantuan dalam persalinan. Saya dipanggil maka kapan saja selalu siap melayani dan menolong siapa pun. Tugas pelayanan tidak tebatas pada siang hari, malam ataupun dalam keadaaan sibuk apapun . Tidak memilih siapapun dia entah besar-kecil, kaya miskin, pegawai atau petani . Selalu siap enatah kapanpun. Itulah yang saya jalani , tak kjetinggalan topangan,dukungan,dorongan dari suami, anak-anak, juga orangtua dalam melakukan pelayannan kepada sesama . Maka terimakasih pula tak terhingga kepada semua yag mendukung dalam meneladeni semua pekerjaan pelayanan “ kenang perempuan pentolan Golkar ini .
Dari satu pengalaman ke pengalaman ditimba dari pelayanan dan pertolongan kepada sesama via tugas yang diembannya , “ Saya banyak melayani banyak orang dan lupa akan mereka , namun akan dingatkan ketika saya disapa bila ketemu , disinilah kebahagian bathin terurai di sana . Hikmah kita disitu, dimana kita ditegur” urai isteri mantan Bupati Paniai. Ketika disinggung bagaimana system pendidikan dulu dengan sekarang , Ibu tiga anak ini mengurai dengan lancar akan perbandingannya . Sekarang kita hanya kejar kecerdasannya sementara disiplin dan kualitasnya terabaikan . dimana kepintaran menjadi incaran utama sementara IQ yang sedang-sedang dilakukan pembiaran . Padahal waktu dahulu Orang yang IQ rendah alis kepintarannya sedang menjadi incaran bahkan gemblengan utama dari para guru. Kepintaran bukan incaran tetapi disiplin, jujur . Nilai ujian bukan jadi incaran dan ukuran bagi siswa “ Kalau dulu anak yang dianggap bodoh itulah yang jadi prioritas pembinaan., Pendidikan dasar tempo dulu mengejar kualitas, bina dan didik betul-betul, bukan kepintaran yang di kejar. Sementara displin kerjapun sama dimana semua displin baik waktu, maupun kerja . Walaupun fasilitas terbatas namun bekerja sepenuh hati ketimbang sekarang banyak kemudahan apalagi kini banyak pejabatnya orang Papua . Namun kini kita lihat apa kata realita. Dalam menjalani semua tugas dan tanggung jawab ini, atas semua bantuan , dukungan dan dorongan dari semua orang terutama suami dimana dalam menjalankan tugas tidak pernah mengekang, mencemburui, seperti yang terjadi pada kelurga lain . Maka pada 31 desember 2003 merupakan pesta perak perkawinan dengan sang suaminya. emanuel goo

Jumat, 11 Januari 2008

Agustina Modow.” Harus Memiliki Kantor Pemberdayaan Perempuan Sendiri “


Kehadiran bidang Pemberdayaan Perempuan di Nabire sudah memasuki usia 5 Tahun bernaung dibawah Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung sedang kekosongan Kepala Bidang PP kini telah dijabat oleh Ibu Agustina Modow, Amd.P pada Oktober lalu. Bagaimana keberadaan Kantor Pemberdayaan Perempuan itu sendiri ? apakah harus berada di kantor sendiri ?.
Keberadaan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan yang masih dibawah naungan di Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung (BPMK) Kabupaten Nabire ini berbagai nada desakan mampu protes adanya Kantor Pemberdayaan Perempuan sendiri bermunculan dari kaum perempuan. Bahlan Kepala Pemberdayaan Masyarakat Kampung pun tak ketinggalan bersuara demi memperjuangkan Kantor sendiri.
“Kita sudah bertahun-tahun lamanya ada dibawah kendali kaum pria. Di era reformasi dan demokrasi pun tak ada ubahnya. Tengok saja, pemberdayaan perempuan saja masih di kawal, dikontrol dan dipimpin oleh kaum pria. Harusnya pemberdayaan perempuan kantor sendiri. Kita berada dibawah kantor pemberdayaan masyarakat kampung yang notabenenya Kepala Kantornya seorang laki-laki, itu tandanya cara pandang pria terhadap perempuan dianggap rendah, belum mampu, padahal perempuan memiliki yang potensi luar biasa yang tidak dimiliki kaum pria. Karena itu berikanlah Kantor sendiri untuk mengurus masalah-masalah perempuan, tandas Ibu Damiana Tekege SH. M. Hum belum lama ini.
Menurut Ny. L.B. Samosir Ketua PKK Kabupaten Nabire” harus ada kantor pemberdayaan perempuan sendiri agar dapat merangkul semua orang perempuan guna memberdayakan dari dunia ketertinggalan, serta merta diisi dengan segala kegiatan yang bernuansa membangun perempuan. Sebab kalau berada di bawah naungan BPMK, seakan-akan tidak berbuat sesuatu/kegiatan sebab tidak memiliki alamat sendiri. Perempuan Papua ada dan siap memimpin daerah dengan potensinya. Kita lihat di daerah lain seperti Merauke, Jayapura sudah memiliki kantor sendiri, lantas kenapa di Nabire tidak, bukan zamannya lagi semua urusan yang mampu dilakukan perempuan dibawah kungkungan pria” tandas Ibu Samosir belum lama ini.
“Supaya harkat dan harga diri perempuan Papua diangkat via pemberdayaan-pemberdayaan maka sekiranya sudah mampu mempunyai kantor senidir. Sudah banyak perempuan, yang ikut perjenjangan Spama III. Kini tergantung dari pemerintah, bila itu dianggap sebagai partner pemerintah, maka kita harap kantor sendiri. Tapi sejuh ini belum ada malahan kini terjadi perampingan atau penggabungan instansi-instansi yang ada” kata Ibu Furimbe mantan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Nabire.
Kami minta kantor sendiri kalau masih tadah dibawah kantor lain, sama saja perempuan tidak mampu mengurus rumag tangga sendiri alias organisasi. Ada apa dibalik itu. Kita sambil menunggu kantor sendiri harus diisi dengan berbgai kegiatan yang menyelesaikan persoalan diseputar perempuan dan mengakomodir kepentingan-kepentingan perempuan, kata Damiana Tekege, SH.M.Hum Kepala Bagian Hukum Setda Pemda nabire di ruang kerjanya.
Banyak sekali figur perempuan yang dapat diandalkan, untuk memimpin kantor pemberdayaan perempuan yang mampu menyelesaikan masalah perempuan. Figur yang nantinya memimpin benar-benar mampu dan berkinerja menyelesaikan dan mengangkat harkat perempuan, dengan jalan pengumpulan data untuk menemukan masalah perempuan yang ada di Nabire. Lantas prioritaskan masalah-masalah yang harus diselesaikan. Tanpa mendata masalah yang ada di daerah ini, tidak akan menyelesaikan masalah. Prioritaskan persoalan, penyelesaian dengan koordinasi dengan organisasi perempuan yang ada di daerah ini. Dengan demikian akan teratasi sebagian masalah. Sekalipun tidak semua masalah teratasi. Kita berharap kantor pemberdayaan perempuan dipisahkan dari kantor induk BPMK agar ruang gerak perempuan leluasa supaya masalah perempuan ditanggulangi. Urai Damiana belum lama ini.
Hal senada juga diutarakan Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Nabire, Elsi Gobay, SE bahwa di Negara ini kita sudah memiliki menteri Pemberdayaan Perempuan kemudian sebagai perpanjangan tangan dari Kementrian telah hadir di Provinsi Kantor Pemberdayaan Perempuan Papua, lantas ditingkat Kabupaten sebagai pelaksana, di Manokwari, Merauke, Jayapura dan sebagian Kabupaten lainnya sudah memiliki Kantor Pemberdayaan Perempuan (PP) dan Kepalanya. Terus di Nabire hingga saat ini belum ada kantor PP sendiri yang mengurus persoalan perempuan. Ruang kerja Kepala Bidang pemberdayaan Perempuan saja sudah tidak layak sebab ruangan sempit, sehingga tidak bebas untuk kerja atau rapat dan lainnya. Belum lagi alokasi dana yang tidak jelas, sementara kegiatan harus dilakukan cukup banyak dari Pemberdayaan perempuan untuk melakukan kegiatan harus melalui BPMK, agar tidak lagi lewat Kantor naungan Pemberdayaan Perempuan juga bebas kerja maka Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Perempuan segera menjadi Kepala Kantor PP dan keluar dari lingkungan birokasi serta patriarchi guna melakukan terobosan-terobosan masalah perempuan yang cukup komplek ini, urai Elsi yang baru dilantik sebagai ketua DWP Nabire belum lama ini.
Karena itu lanjut Elsi diharapkan berikan ruang kerja (bekas kantor Perampingan yang masih kosong) tersendiri sebagai tempat kerja. Selama ini tempat kerja saja sempit, bila dapat diberi kantor tersendiri untuk bekerja dengan leluasa, sebab banyak perempuan yang mampu dan siap bekerja dengan berbagai kegiatan bagi perempuan dengan keuangan tersendiri.
Orang memandang keadaan organisasi perempuan dan kegiatan-kegiatannya begitu-begitu saja, sehingga tak perlu diperhatikan, seakan-akan dikuasai dan diatur oleh laki-laki. Bukti bahwa Kepala Bidang PP masih berada di bawah BPKM yang notabenenya dikepalai laki-laki, dengan demikian dominasi patriarchi dalam budaya Papua.
Untuk itulah kasih kans, kewenangan, keleluasaan, dan pengelolaan keuangan sendiri kepada perempuan, sebab banyak figur perempuan yang mampu dan berpotensi memimpin Pemberdayaan Perempuan, urainya.
Kita berharap lanjut Gobay, Kantor sendiri agar program yang ada digelari segera. Bila dapat kantor-kantor hasil perampingan yang sedang mengganggur/kosong diberikan kepada Pemberdayaan Perempuan untuk melakukan aktivitas.
Ny. Welmince Ketua Pelaksana Harian Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Nabire yang ditemui mingguan ini (18/12) mengatakan kantor PP segera berdiri sendiri, agar urusan perempuan, kita urus sendiri juga tak terlalu melalui birokrasi yang panjang. Segala sesuatu harus diambil oleh perempuan sendiri. Kelihatan Budaya Kebapaan masih menguasai maka ruang gerak perempuan dibatasi. Sudah 2 tahun lalu ada persiapan kantor sendiri tapi sampai sejauh ini ternyata masih belum jelas kepastiannya. Kita tak perlu diobyekan tapi berikan kebebasankepada kami ini untuk Berdayakan diri Perempuan yang memiliki martabat yang sama dengan laki-laki. Maka berikan kesempatan untuk menata, mengelola, memimpin sendiri.
Sedangkan menurut Agustina Modow, Amd.P Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan menyatakan dari waktu ke waktu Kaum Perempuan tidak ada perubahan, kendati muncul satu-satu perempuan di berbagai lini kehidupan. Hidup perempuan tertindas, terlindas, bahkan korban dari kebijakan. Untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan, bila diberi kepercayaan memimpin, berikan sepenuhnya. Saya diberi jabatan kepala Bidang Pemberdayaan Peremuan, sekarang kita upayakan kantor sendiri sebab di daerah lain sudah memiliki kantor sendiri. Diberikan kepercayaan tak perlu ragu diberikan sepenuhnya kaum perempuan mampu dan berpotensi. Kami bernaung dibawah kantor BPMK. Kunkungan kuasa laki-laki masih menguasai perempuan. Buktinya Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan berada dibawah BPMK, kalau dapat lepaskan kami dan dirikan kantor Pemberdayaan Perempuan sendiri, agar mengangkat dan melihat ketertinggalan kaum perempuan yang msih jauh di daerah-daerah terpencil, demi kesetaraan dengan perempuan lain.
Drs. Thomas Tigi Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung (BPMK) Kabupaten Nabire tempat bernaung pemberdayaan perempuan menyatakan. Keinginan ibu-ibu harus adanya kantor sendiri merupakan satu kerinduan yang ada hingga kini, sebab pemberdayaan perempuan membawahi 30 organisasi perempuan di Kabupaten dan 13 Tim Penggerak PKK yang ada di Distrik. Dengan demikian harus ada kantor sendiri agar kepentingan perempuan terurus dengan baik. Sepatutnya membentuk kantor sendiri sebab sementara masih bergabung BPMK, menanggung pekerjaan banyak baik dari Kepala Bidang Perempuan maupun bidang pemberdayaan lainnya. Maka harus ada kantor agar alokasi dana jelas dan dapat mengatur organisasi perempuan yang ada. Kalau selama itu masih gabung dengan BPMK tidak ada dana yang jels dan tahunya dana pemberdayaan yang ada di keuangan. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya ikut terlibat dan dilakukan tapi sementara kami tampung sebab tidak ada dana yang jelas. GOW (Gabungan Organisasi Wanita) dan PKK dapat menjurus sendiri tapi organisasi yang mengontrol (Pemberdayaan Perempuan) belum ada sehingga belum terakomodir kegiatan-kegiatannya.
Kedepan pemerintah daerah harus pikirkan bahwa perlu ada kantor sendiri agar mereka dapat mendiri. Itupun tergantung dana tapi kementrian perempuan sudah ada maka di Nabire pun perlu ada kantor tersebut sebab pemberdayaan perempuan membawahi berbagai organisasi perempuan yang cukup banyak, tandas Tigi.
Kedepan lanjutnya kita akan ajukan supaya ada kantor sendiri. Inikan kita melihat banyak organisasi dibawah PP maka harus mengurus dan mengatur sendiri, sambil mencari figur perempuan yang mampu, cocok, membina dan memberdayakan organisasi perempuan yang ada. Pemerintah daerah pikirkan dan upayakan memiliki kantor sendiri, sebab kita sudah susah mengurus organisasi ibu-ibu yang cukup banyak dan belum jelas alokasi dana agar mereka mengurus rumah tangga sendiri.
Sedangkan menurut Drs. Tonny P.H. Karubaba Wakil Bupati yang dikonfirmasikan Suara Perempuan ketika menghadiri acara HUT Dharma Wanita Persatuan Nabire, mengatakan sehubungan dengan prinsip penataan organisasi di Nabire hemat struktur kaya fungsi, maka tetap berada di BPMK. Pemberdayaan perempuan pun adalah bagian dari masyarakat. Kedepan tugas dan fungsi, volume kerja dari bidang pemberdayaan perempuan semakin meluas dan bertambah banyak maka kantor pemberdayaan perempuan akan berdiri menata organisasi sendiri. Untuk sementara dibawah BPM dulu.
Ketika disinggung bagaimana dengan daerah lain yang sudah ada kantor sendiri ? Tonny menyatakan hal itu tidak masalah sebagaimana diamanatkan dalam UU 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah bahwa Pemda dapat membentuk organisasi pemerintah baik Badan atau Dinas, kantor, distrik, sesuai kebutuhan dan kemampuan daerah.
Jadi mengarah desakan adanya kantor pemberdayaan perempuan, lebih tegas menyatakan bila volume kerja, tugas dan fungsi semakin meluas, maka kedepan akan berdiri kantor sendiri guna mengangkat harkat perempuan.

emanuel goo

Kiat Mengatasi Krisis Guru Di Papua

Oleh Emanuel Goo*)
Sekolah merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia pada umumnya dan khususnya di Papua terutama di Lembah Hijau Kamuu. Dengan demikian sekolah menjadi perioritas utama pemerintah untuk memperhatikannya dalam pengembangan sekolah maupun sarana prasarana lainnya demi mencapai dan mewujudkan manusia yang mampu berkompeten dalam berbagai dimensi hidup dan kehidupan manusia baik dalam tindakan maupun dalam perbuatannya, dan juga untuk mencapai Sumber Daya manusia yang handal dan berkompeten.Untuk mendapatkan manusia yang mampu dan berkompeten, sekolah sedang di buka dimana-mana di seluruh Kamuu. Bahkan setiap kampung memiliki sekolahnya sendiri, dan itu menjadi peroritas utama. Hal itu adalah wajar sebab semua orang mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan. Tetapi yang menjadi pertanyaan untuk kita adalah benarkah tanpa pendidik akan terwujud manusia yang berkompeten?. Sekilas ulasan saya untuk menjawab pertanyaan diatas bahwa sekolah hanyalah tempat belaka kalau tidak ada atribut (sarana) yang dilengkapi di sekolah terutama sekolah-sekolah yang ada di Kamuu. Baik mulai dari tenaga mengajar (guru), buku-buku cetakan, alat-alat praktek, dan sarana prasarana lain yang sangat penting maupun pelengkap untuk melengkapi dan mengembangkan serta meningkatkan mutu pendidikan anak sebagai subyek didik.Salah satu sarana yang sangat penting untuk dilengkapi adalah tenaga pengajar. Tenaga pendidik dan pengajar menjadi problem utama bagi siswa di sekolah. Realita yang sementara terjadi di Kamuu adalah bahwa karena tidak ada tenaga pengajar (yang mengajar di satu sekolah hanya satu dua guru saja) sehingga yang mengajar disekolah adalah mereka yang putus sekolah maupun yang selesai baik dari tingkat SMP maupun SLTA, serta mereka yang selesai dari perguruan tinggi tapi bukan jurusan guru. Problem ini menjadi masalah utama bagi anak sekolah yang sementara ini ada di bangku studi baik di SD, SLTP, maupun di SMA. Sebab guru yang mengajar adalah bukan profesinya, apalagi dengan berlakunya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, disini saya tidak menduga-duga bahwa pasti KBK ini belum diterapkan dan yang diterapkan adalah kurikulum tahun 1994 yautu dimana guru harus terus aktif dalam menjelaskan materi pelajaran yang diajarkan, pada hal KBK itu dituntut supaya anak yang menjadi peranan penting dalam proses belajar sementara guru hanya siap sedia dalam segalah pertanyaan yang diberikan oleh murid di sekolah dan guru harus menjelaskan dan meluruskan atas pertanyaan yang diberikan oleh siswa. Dengan demikian baik kalau pemerintah terutama dinas yang terkait untuk mengkaderkan beberapa tenaga pengajar. Pengkaderan baik menurut saya adalah mereka yang selesai dari perguruan tinggi itu mengajak mereka dengan menangung beban biaya dari pemerintah untuk mengambil akta mengajar, sedangkan mereka yang selesai dari SMA/ SMK dan sederajatnya memfasilitasi mereka untuk melanjutkan pendidikan dibagian keguruan, dan juga supaya mereka bisa memahami bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan dalam bentuk KBK supaya bisa mendapatkan tenaga pengajar yang profesional agar tenaga guru profesional yang dielu-elukan oleh masyarakat dapat terwujud. Apabilah hal itu tidak dilakukan dan diperhatikan, maka baik kalau sekolah yang sementara dibagun diseluruh lembah kamu segera dihentikan dan rehabilitasi kembali hanya satu dua sekolah dengan berpolah asrama agar itu menjadi perioritas untuk orang kamuu baik SMP maupun SMA. Kalau itu tidak diperhatikan juga, maka itu adalah salah satu pembodohan yang dilakukan terhadap generasi baru orang Kamuu. Apalagi yang mengajar adalah bukan profesi guru. Hal ini sangat berbahaya untuk masa depan orang Kamuu sebab yang terjadi sementara diistilahkan bahwa “orang buta menuntun orang buta” (bukan berarti tidak bisa mengajar melainkan karena profesi).Selain sarana penting di atas sarana penting lainnya adalah sarana pendidikan. Sarana pendidikan diantaranya gedung sekolah, buku-buku cetakan baik sebagai panduan untuk mengajar maupun buku-buku bacaan, alat-alat praktek (laboratorium sekolah), perpustakaan sekolah, maupun sarana prasarana pokok lainnya seperti meja, kursi, kapur tulis, papan tulis dan lain sebagainya yang bergsangkutan dengan meningkatkan mutu pendidikan anak-anak sebagai subyek belajar. Kesimpulannya bahwa sekolah yang ada segera dilengkapi tenaga pengajar yang profesional. Dengan demikian tenaga mengajar harus diperioritaskan jangan sekolah. Apabilah tenaga pengajar yang profesional sudah ada dan layak untuk dibuka sekolah, maka kemudian disusul dengan pendirian sekolah dimana layak untuk didirikan. Sebab guru adalah penentu masa depan anak disekolah dan guru adalah frofesional.*)
Koresponden Suara Perempuan Papua Tinggal di Nabire

ARUI, Merebak Wabah Misterius

Wabah misterius merebak Kampung Arui distrik Napan , 8 orang merenggut Nyawa , 105 oarang menjalani rawat jalan , 24 orang rawat inap , 2 orang dirujuk ke Jayapura , eksodus warga ke kampung lainpun kian menjadi . Kampung Arui jadi melompong dari aktivitas keseharian masyarakat .


Minggu tanggal 30 desember 2007 lalu warga kampung Arui Distrik Napan merayakan natal pemuda, namun natal sekaligus acara tutup tahunm menjadi bumerang bagi mereka pasalnya usai mereka santap makanan yang disajikan pada perayaan natal pemuda tersebut pukul 4 subuh Dance sawaa warga kamopung kampung Arui mengalami kelainnan pada tubuh mereka dengan gejala , perut mules , muntaber , kejang, dan kuku tangan kaki membiru hingga hembuskan nafas terakhir . Dance yang juga guru SD di Arui adalah korban pertama dari sekian korban yang berjatuhan usai santap makanan yang disajikan pada acara natal pemuda sekaligus tutup tahun . Sore harinya disusul Robert Morare kembali jatuh sakit dengan gejala penyakit yang sama dan menghembuskan nyawanya terakhirnya . Sebagian warga mengalami kondisi tubuh yang sama sehingga terakhir warga mengevakuasi ke rumah sakit demi menjalani perawatan di rumah. Korban mulai berjatuhan hingga hari ini 8 oranng telah meninggal dunia . Sementara pasien yang dirawat di rumah mencapai 40 orang .

Menurut salah satu pasien M Msiro ditemui media ini diruang inap mengatakan tanggal 30 desember lalu mereka mengikuti natal pemuda sekaligus merayakan tutup tahun di kampung . panitia menyajikan makanan dua meja , sementara lagi sedang ibadah, mereka dikagetkan dengan kedatangan jenazah Leonarce yang dikirim dari Wapoga . Maka semua warga keluar untuk melihat jenazah yang dibawa datang itu . Tidak ada seorangpun yang menjaga makanan yang telah disediakan pada meja itu . Usai melayat warga melanjutkan kegiatan natala pemuda yang sempat tertunda gara-gara kedatangan jenazah tersebut .
Tanggal 30 desember Sebelum Ibadah itu mulai Jenazah Mama Petornela Misiro yang meninggal di Wapoga tiba di Arui. jam 7 00 wp Ibadah perayaan Natal Kampung Arui di mulai sampai Ibadah berakhir jam 9 30 wp. Jam 9 30 wp malam Guru jemaat Orgenes Woromboy yang pimpin Ibadah makan lebih Duluan. .Jam 10 00 wp malam Makan bersama setelah selesai pulang kerumah masing-masing dengan baik.Tanggal 31 Desember 2007 Jam 4 00 wp Pagi Dance sawaa merasa perut mules dan muntah disusul dengan Derek Inauri dan lain-lain.Tanggal 1 Januari 2008 .Jam 1 .00 wp Danci Sawa Guru SD meninggal di Kampung Arui.Jam 4 00 wp Derek Inauri meninggal di Kampung Arui.Jam 5 00 wp Robert Morare Guru SD meninggal di kampung di arui Jam 7 00 wp Kostantasa Singamei meninggal di kampung di Arui. Tanggal 2 Januari 2008 beberapa orang korban keracunan langsung evakuasi ke RSUD Nabire.Termasuk Matias Arwam Mahasiswa STT Is Kijne Abepura yang meninggal di tengah perjalan menuju RSUD Nabire.Tanggal 3 Januari 2008 Jam 6 00 wp. Jam 6 00 wp Tim Dinas kesehatan Turung kelokasi kejadian dengan membawa keracunan.obat-obatan ke Arui Jam 6 30 wp Sekertaris Daerah Nabire Drs Ayub Kayame Mengunjungi korban Arui Ke Rumah Sakit Umum Siriwini Nabire. Jam 3. 30 wp pagi subu Ibu Salomina Saroy meninggal di RSUD Siriwini Nabire.Tanggal 4 Januari 2008 jam 9 30 wp subu Ibu Ilemina Saroy meninggal di RSUD Nabire.



selama acara hingga santap makan tidak ada kejanggalan tetapi pada pukul 4 subuh barulah terasa ketika salah seorang waga guru Dance sawaa mulai mules-mules, disertai muntaber, pada tubuhnya kejang-kejang( tegang ) lalu kuku tangan dan kakinya membiru hingga mnghembuskan nafas terakhirnya . kemudian gejala penyakit yang sama dialami seluruh warga arui yang mengikuti acara ibadah pemuda natal , sampai 8 menelan 8 korban nyawa . kemudian tanggal 2 januari 2008 pasien dari kampung yang masuk rumah sakit kian memuncak memenuhi rumah sakit daerah nabire .
“ setelah kita makan makanan itu baru kami mulai sakit-sakit sampai ada yang meninggal “
kata msiro .

Ketika dikofirmasi( 07/01) Suara Perempuan dr.Agustin Y.M Pelaksana harian direktur RSUD yang juga angota Tim Kejadian Luar Biasa Nabire kepada suara perempuan mengatakan . pasien sudah mulai masuk rumah sejak tanggal 1 januari tetapi karena datang satu –satu maka dianggap bukan kejadian luar biasa . ketika tanggal 2 januari barulah dapat dikatakan kejadian lauar biasa sebab dari satu kampung saja masuk rumah sakit banyak . Maka itu dianggap KEJADIAN Luar Biasa ( KLB) penyebab utama wabah yang menyerang warga kampung Arui ini belum ada kepastian penyebab utama , karena itu belum bisa dipastikan . sample darah kami telah mengirim ke jayapura untuk diperiksa secara laboratories. DISINI sudah berulangkali melakukan pemeriksaan darah namun tidak mampu terdeteksi maka kami kirim ke jayapura .Kita harap mhasilnya besok pagi ( 08/01) tiba di nabire .
“Untuk penyebab kami tidak dapat pastikan makan mesti dilakukan pemeriksaan . karena itu, sampel darah telah dikirim ke Jayapura untuk pemeriksaan dan sedang diperiksa disana , dalam waktu dekat ini hasil pemeriksaan akan tiba di Nabire Direktur Rumah Sakit Nabire Dr Agustin Yuliana Mantow menandaskan Infeksi Banteri ini tidak bisa periksa di Nabire sebab RSUD Nabire Tidak ada alat untuk menedeteksi di periksa darah maka itu sebagai sample darah harus kirim ke Laboratorium RSUD Jayapura untuk memastikan bakteri yang menimpa warga masyarakat Arui “ urai agustin.


Menyoal data korban yang telah menigggal di rumah sakit agustin mengakui hingga hari ini sudah 3 pasien telah meniggal dunia . Sedangkan yang meniggal di kampung belum diketahui . data korban yang meninggal di rumah sakit 3 orang, rawat inap 24 orang , dirujuk ke jayapura 2 orang dan rawat jalan sebanyak 103 orang . Dan yang sedang dirawat sampai hari ini 11 orang .
Penyebab belum bisa dipastikan maka blum bisa dipublikasikan . Sudah ada hasil pemeriksaan baru akan dipublikasikan . Karena itu dokter aguistin menyarankan agar
masyarakat menjadi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari masuk kebersihan makan miunum . Jaga kesehatan sangat penting .

Menurut Kepala Dinas Yosepina Manuawaron mengatakan ada indikasikan penyebab penyakit itu berasal dari ternak babi ,maka perlu dokter hewan untuk turut serta ke lokasi untuk mengecek langsung. Kami Pihak Kesehatan Sedang mengecek dan mencari tahu jenis penyakit apa sebenarnya sudah menyerang warga Arui itu.Lebih jauh manuaron mengatakan kami sudah berusaha semaksimal mungkin ,kirim obat-obatan ke Lokasi kejadian dan kami siapkan satu gedung untuk mereka dengan maksud pelayanan penuh kepada mereka.

Yang mengherankan bagi guru gembala adalah sebelum mereka makan saya lebih dulu makan setelah itu jam 10 00 wp makan bersama tetapi saya tidak kena , jadi makanan malam itu bagi 2 kelompok, kelompok pertama untuk anak-anak, kelompok kedua adalah Orang Dewasa .yang kena penyakit itu kelompok orang tua sedangkan anak-anak kecil tidak kena,pada hal masak itu sama-sama . Dan guru jemaat ini heran kedua anaknya yang tidak ikut makan juga kena penyakit itu,lalu opneme di rumah Sakit Nabire. Pada Waktu kami makan tidak rasa apa seperti biasa tetapi gejala penyakit itu muncul jam 4 00 wp subuh jadi kami bingun sebab hal seperti ini baru terjadi kalau biasa terjadi kami bisa duga penyebabnya ini dan itu.

Menurut sejumlah pasien juga warga yang ditemui (5,7/01) di Rumah Sakit Siriwi Nabire mengakui Kami biasa lakukan acara seperti itu namun natal kali sangat aneh. Karena Pada saat Ibadah itu mau di mulai Jenasa Mama Petor Nela Misiro tiba di Arui di bawah datang dari Wapoga semua orang yang ada dalam Gereja maupun Ibu-ibu yang menyiapkan makanan mereka semua lari ke pantai melihat jenasah Mama Petornela Misiro.Setelah itu baru ibadah .Jadi menurutnya cara menyiapkan makanan , Menunya masak sama-sama dalam rumah dan simpan dalam rumah waktu menyiapkan baru keluarkan dari dalam rumah hidangan orang dewasa/ dan hindangan untuk anak-anak kecil hanya saja meja itu saja yang bagi dua. Pertama menyiapkan hidangan orang Dewasa lebih dulu setelah itu ibu-ibu mau siapkan hidangan anak-anak kecil tiba-tiba ada berita Jenasah mama Petornela Misiro tiba dari Wapoga ,dengar berita itu ibu-ibu tinggalkan menyiapkan makan anak-anak itu pergi melihat jenazah tidak ada ibu atau orang yang jaga makanan yang di siapkan hindangan orang Dewasa itu.Sesudah menengoh Jenazah kembali lalu menyiapkan hindangan buat anak-anak kecil. Bubu yang di pakai sama,air Putih yang diminum juga sama.Jadi yang kena racun itu Mereka yang mencicipi Hidangan pertama orang dewasa, hidangan pertama itu habis ibu-ibu konsumsi tambahkan hidangan kedua sehingga mereka yang mencicipi hidangan kedua tidak kena racun mematikan itu.
Jadi kami duga ,pada waktu ibu-ibu tinggalkan makanan lalu pergi melihat Jenazah saat itu orang lain memanfaatkan kesempatan menghamburkan diatas menu yang siap makan ini. Karena yang kena itu mereka yang timba makanan gelombang pertama sedangkan timba gelombang kedua dan anak-anak kecil tidak kenah racun.Jadi singkatnya itu sengaja orang menghamburkan racun itu di kampung Arui.

Dewasa ini opini public mengemuka bahwa wabah itu berasal babi hutan atau babi piara itu tidak benar sebab babi hutan itu selalu makan makanan alam tidak ada mengandum virus sedangka babi piara pasti saja semua orang makan irtu semua yang kena.
Dari berbagai sunmber mengakui bahwa Pada waktu Ibu-ibu tinggalkan makanan sendiri yang di siapkan di samping Gereja itu oleh orang yang di pakai setan menghamburkan racun diatas hidangan yang siap di makan ini. Melihat dari kejadian sudah lama disiapkan untuk membunuh orang Arui sehingga momen itu dimanfaatkan untuk melakukan niatnya itu sehingga menelan korban 8 orang meninggal dunia akibat perbuatan biadap itu.Kejadian seperti ini bisa terulang di daerah lain kerena itu di buat oleh orang yang tidak mau hidup dengan Papua. Dan mempercepat genosaid. Makanan yang di makan itu berkontaminasi dengan bahan kimia siapa yang menghamburkan racun diatas makanan pertama..Gejala sakit yang muncul pada masyarakat arui Panas tinggi. Perut mules,muntah,Menceret, diare pertama dan kedua tidak ada pertolongan para medis maka menceret ketiga langsung meninggal.


Data korban hasil penelusuran media ini , akibat merbaknya wabah ini selurruh warga kamnpung telah mengungsi ke kampung lain sebab terkhir 8 orang telah meninggal dunia termasuk seorang Mahasiswa STT IS Kijne Jayapura yang sedang menjalani praktek di Arui , 40 orang telah menjalani rawat inap, 2 orang dirujuk ke Jayapua dan ratusan warga menjalani rawat jalan di rumah Sakit Umum Nabire



Korban Meninggal Dunia 08 orang
Derek Inauri umur 32 tahun pekerjaan Nelayan meninggal di Arui
Danci Sawaa Umur 34 tahun Pekerjaan Guru SD meninggal di Arui
Robert Morare umur 41 tahun Pekerjaan Guru SD meninggal di Arui
Ny Kostantasa Singgamui umur 36 tahun pekerjaan ibu rumah tangga meninggal diArui
Mathias Arwam umur 27 Tahun Pekerjaan Mahasiswa STT Is Kijne Abepura meninggal dalam perjalan menuju RSUD Nabire.
Ny Ilena Saroi umur 28 tahun Pekerjaan Ibu rumah tangga meninggal di Rumah Sakit Umum Nabire.
Ny Salomina Saroi umur 40 tahun pekerjaan Ibu rumah tangga meninggal di rumah sakit Umum Nabire.
Bapak Eliakim Misiro umur 57 tahun Pekerjaan pensiunan Dinas kehutanan Nabire meninggal di rumah sakit umum nabire.


Emanuel goo (nabire)